Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
KRPL
Tikus
Proquest
100 Teknologi
Pengenalan Ayam KUB
e-Produk

Galeri Foto

Program Litbang
P

Pengkajian Agribisnis Kelinci di Provinsi DIY PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 25 November 2013 10:00

Kelinci (Lepus sp.) merupakan  ternak yg berpotensi besar sebagai penghasil daging dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi sederhana berdasarkan karakteristik pertumbuhan dan reproduksi serta dari jumlah pakan yg sama, kelinci mampu memproduksi daging 5 kali lebih banyak dari sapi atau 3 kali lebih banyak dibanding domba. Daging kelinci merupakan salah satu daging yang berkualitas baik dan layak dikonsumsi oleh berbagai kelas lapisan masyarakat. Akan tetapi upaya promosi konsumsi daging kelinci belum segencar promosi konsumsi daging-daging lainnya seperti ikan, ayam, daging sapi dan lain sebagainya. Kondisi ini menyebabkan laju konsumsi daging kelinci secara masal sangat lamban. Diduga hambatan konsumsi daging kelinci bukan pada preferensi namun lebih disebabkan faktor psikologis masyarakat yang lebih memandang kelinci sebagai ternak hias yang disayang sehingga tidak tega untuk dipotong dan dikonsumsi. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui sistem agribisnis kelinci adaptif di DIY dan mengetahui persepsi masyarakat DIY terhadap konsumsi daging. Metode kajian yang digunakan adalah survei dengan wawancara menggunakan instrumen terstruktur dan dilaksanakan pada periode bulan Januari – Desember 2012. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan  jumlah sampel sebanyak 60 responden. Data yang terhimpun dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa keuntungan yang diperoleh dari usaha ternak kelinci sebesar Rp 26.900.000,- selama satu tahun dengan tingkat efisiensi usaha 2,72 dan nilai B/C 1,72  Nilai B/C lebih besar dari satu mengindikasikan bahwa usaha usaha ternak kelinci menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Kekuatan yang dimiliki dalam agribisnis kelinci di DIY adalah air kencingnya dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman, motivasi petani untuk budidaya kelinci cukup tinggi, kandang sangat sederhana dan mudah dibuat. Kelemahan yang dimiliki dalam agribisnis kelinci adalah pengetahuan dan ketrampilan teknis budidaya kelinci masih rendah, bibit kelinci yang unggul/bermutu sulit didapat, aksesibilitas petani terhadap informasi pasar rendah, kurangnya promosi terutama untuk pupuk dan urin kelinci. Peluang yang dimiliki dalam agribisnis kelinci  adalah pasar  untuk produk kelinci  terbuka luas, kebutuhan petani akan air kencing kelinci sangat banyak sehingga peluang beternak kelinci sangat menjanjikan. Ancaman yang dimiliki dalam agribisnis kelinci adalah kebutuhan ternak kelinci meningkat tajam sementara ketersediaan hewan kelinci sedikit sehingga berakibat naiknya harga ternak kelinci, agribisnis kelinci mulai dikenal konsumen sehingga mempunyai pangsa pasar yang besar, dan pada umumnya beternak kelinci perlu modal yang cukup besar. Berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal agribisnis(analisis) SWOT) kelinci mempunyai prospek dan peluang untuk dikembangkan. Kelinci pada umumnya dipasarkan langsung dari peternak ke pedagang pengumpul yang datang pada waktu tertentu atau dijual langsung pada konsumen. Pedagang pengumpul biasanya akan menjual kembali kelinci tersebut  di pasar atau pada pedagang sate kelinci.

 
Diversifikasi Produk Olahan Melalui Pemanfaatan Tepung Berbasis Pangan Lokal DIY PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 25 November 2013 09:59

Pelaksanaan kajian Diversifikasi Produk Olahan Melalui Pemanfaatan Tepung Berbasis Pangan Lokal di Provinsi DIY pada bulan Januari-Desember 2012 berlokasi di Dusun Nglothak, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini untuk mengidentifikasi berbagai jenis pangan lokal di Provinsi DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo, memanfaatkan dan mengolah pangan local (umbi-umbian dan kacang-kacangan) menjadi tepung, membuat diversifikasi olahan dari tepung pangan lokal DIY dan mendiseminasikan hasil kajian ke stakeholder. Metode pengkajian dengan survai dan pengumpulan sampel (bahan penelitian) dilakukan untuk inventarisasi plasma nutfah pangan lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi pemanfaatan pangan lokal yang telah dilakukan di masyarakat (indigenous technology) dan membandingkan dengan teknologi pengolahan dari BPTP Yogyakarta. Penelitian di laboratorium dilakukan untuk optimalisasi diversifikasi pengolahan pangan lokal sumber karbohidrat dari umbi-umbian (ganyong putih, ganyong merah, kimpul, gembili) dan protein (kacang koro, tolo, dan benguk). Introduksi teknologi pengolahan dilakukan setelah optimalisasi diversifikasi pengolahan yang dilakukan di laboratorium.

Hasil identifikasi pangan lokal di kabupaten Kulon Progo yang potensial adalah umbi ganyong, kimpul dan gembili, sedangkan kacang-kacangan adalah koro, benguk dan tholo.  Rendemen tepung umbi-umbian yang tertinggi adalah tepung ganyong dan kimpul (28%) sedangkan tepung kacang adalah kacang tholo (91%).Tepung yang memiliki derajat putih tertinggi adalah tepung kacang koro (80,80). Penerimaan konsumen terhadap cookies yang paling disukai Ganyong: tholo (80% : 20 %); Kimpul : tholo (80% : 20%); Kimpul : tholo (80% : 10%). Penerimaan konsumen terhadap mie kering yang disukai Ganyong : tholo (75 g : 50 g); Kimpul : tholo (75 g : 50 g); Gembili : koro (100 g : 25 g). Kosumen lebih menyukai brownies tepung ganyong dengan fortifikasi tepung tholo 20% dengan nilai 6 yang berarti suka diikuti berturut turut ganyong fortifikasi tholo 10% dengan nilai 5,8, kimpul dengan fortifikasi tholo 20% dengan skor nilai 5,4. Fortifikasi kacang--kacangan kedalam produk olahan umbi akan meningkatkan nilai gizi utamanya lemak, protein dan serat kasar. Setelah dilakukan kajian pengetahuan petani meningkat dari (6,67 %) menjadi (80 %) dan ketrampilan petani meningkat dari 6,67% menjadi 60%.

 
MP3MI Kabupaten Kulon Progo PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 25 November 2013 09:55

Kegiatan Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi  (M-P3MI)  Kabupaten Kulon Progo, dilaksanakan di Kelompok Tani Guyub, Dusun Karang, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Budidaya krisan dilaksanakan di lereng perbukitan Menoreh pada ketinggian 400-900 m dpl, dengan suhu rata-rata 230C, mampu menghasilkan bunga Krisan (Chrysanthemum sp.) dengan keragaan yang baik, lokasi budidaya terletak di  Desa Gerbosari dan Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Sejak tahun 2011,  kedua desa ini terpilih sebagai lokasi “model” bagi pengembangan bunga Krisan. Prospek bunga krisan belakangan ini semakin  baik dan diminati oleh pembudidaya tanaman hias di Yogyakarta maupun di Indonesia. Keunggulan bunga krisan memiliki masa tanam yang singkat dan harganya yang stabil, sehingga dapat dipastikan menjadi salah satu tanaman hias yang mempunyai prospek cerah untuk dibudidayakan karena sangat cocok dengan wilayah Kulon Progo yang memiliki tipologi lahan dan suhu yang sesuai untuk pengembangan krisan. Komoditas krisan telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan nasional melalui SK Mentan sehingga prospek, peluang pengembangan, fasilitasi dan pendampingan menjadi prioritas kebijakan Pusat. DIY termasuk 3 lokasi yang ditunjuk sebagai sebagai sentra perbenihan krisan selain di Cipanas (Cianjur) dan Tomohon (Sulut), sehingga peluang sebagai pemasok benih terbuka lebar. Dukungan daerah telah diwujudkan yaitu pada tahun 2012 Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo merespon dengan memberikan bantuan melalui APBD II sebanyak 2 kubung masing-masing seluas 100 m2 senilai Rp 50.000.000,- dan Pemerintah Provinsi DIY melalui Dinas Pertanian Provinsi memberikan bantuan sebanyak 50.000 benih krisan. Selanjutnya, pada tahun 2013 Pemerintah Provinsi akan mengalokasikan pengembangan kubung sebanyak 2 unit dengan nilai Rp 60.000.000. Jumlah kelompok tani yang kini mengusahakan budidaya krisan di Kabupaten Kulon Progo sebanyak 4 kelompok tani yang tersebar di 2 Desa, yakni Desa Sidoharjo dan Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh.

Kegiatan Temu Lapang dan Panen Perdana Bunga Krisan dilaksanakan pada tanggal 3 September 2012 dihadiri oleh Gubernur DIY yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi DIY, Assekda II Kabupaten Kulon Progo mewakili Bupati Kulon Progo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kulon Progo, Kepala Kantor Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (KP4K) Kabupaten Kulon Progo, Komisi B  DPRD Provinsi DIY, Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo, Bappeda Kabupaten Kulon Progo, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), BPTP Yogyakarta, Pimpinan Cabang BRI Kancab Wates Kulon Progo, Pimpinan Cabang BPD Kancab Wates Kulon Progo, Camat Samigaluh, unsur Muspika Kecamatan Samigaluh, penyuluh BP3K Kecamatan Samigaluh, perwakilan Asosiasi florist dan asosiasi petani krisan Yogyakarta dan petani pelaksana kegiatan MP3MI.

Bupati Kulon Progo menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah memberi pendampingan teknologi kepada para petani di desa Gerbosari. Para petani diharapkan terus menekuni budidaya krisan dan tidak segan untuk meminta bimbingan kepada para ahli bila menemui kendala teknologi. BPTP Yogyakarta diharapkan dapat terus memberi bimbingan kepada para petani di wilayah perbukitan Menoreh untuk pengembangan budidaya bunga Krisan dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Pendampingan dan bimbingan teknis pengembangan usahatani akan dilaksanakan bersama antara Badan Litbang, Pemda dan Dinas terkait. Pendampingan akan dilakukan dari sisi teknis produksi, budidaya, perbenihan, pemasaran, pasca panen, pengolahan hasil dan kelembagaan. Pengembangan kelembagaan akan dilakukan dengan peningkatan kapasitas 4 kelompok tani pelaksana dan KWT (Kelompok Wanita Tani). Rencana tindak lanjut ke depan akan dilakukan penambahan kubung baru kerjasama dengan Dinas, pelatihan pengolahan produk krisan (teh, peyek, permen), penguatan kelembagaan dan jejaring usaha.

Kegiatan MP3MI yang lain diantaranya adalah budidaya krisan dalam pot/polybag, budidaya padi VUB, pengolahan pupuk organik dan pengolahan tepung dan diversifikasi olahan mocaf. Aspek permodalan, kelompok dapat mengajukan skim kredit ke pihak perbankan melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat) atau KKP-E (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) melalui Bank BRI atau BPD DIY. Plafond pinjaman KKP-E untuk kelompok tani maksimal  Rp 500 juta, bunga efektif 5%/th. Diseminasi kegiatan dilakukan dengan model Spektrum Diseminasi Multi Channel (SDMC). Liputan kegiatan dilakukan oleh media elektronik (Jogja TV, Indosiar, SCTV, Metro TV), media cetak (Radar Jogja) dan pers release Kantor Media Center Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan website Diperta DIY dan BPTP Yogyakarta.

 
MP3MI Kabupaten Gunungkidul PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 25 November 2013 09:53

Sejalan dengan upaya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mewujudkan keberhasilan program peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta sejak tahun 2011 telah melaksanakan kegiatan kajian pembangunan Model  Pengembangan  Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) yang sekaligus juga mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mewujudkan Model Pertanian Terpadu (MPT) di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan hasil pemahaman masalah dan peluang yang dilakukan bersama dengan unsur-unsur penentu kebijakan dan pemangku kepentingan pelaksana pembangunan pertanian tingkat kabupaten, kecamatan, desa serta perwakilan masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok tani maupun Gapoktan setempat disepakati bahwa implementasi kegiatan  M-P3MI perlu diarahkan pada pengembangan teknologi untuk optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertanian mendukung pengembangan Sistem Integrasi Padi Ternak (SIPT).

Berkaitan hal tersebut di atas, khususnya dalam upaya peningkatan muatan inovasi teknologi budidaya padi sawah dan padi gogo guna meningkatkan produktivitas telah diperkenalkan teknologi inovatif hasil litbang terkini melalui pelaksanaan petak demonstrasi di lapangan yang dirancang secara partisipatif dengan mendasarkan pada Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Usahatani di lahan sawah dilakukan di kelompok tani Sari Bumi Dusun Gelaran I melibatkan 311 petani pada luasan lahan 50 ha dan lahan kering di kelompok tani Bina Lestari Dusun Grogol V melibatkan kooperator 40 orang pada areal pertanaman seluas 5 ha. Usaha ternak dilakukan di kelompok Rioe (Rukun Iku Utomo) dengan jumlah ternak sapi sebanyak 33 ekor dengan anggota kelompok 33 orang peternak, sedangkan pengolahan hasil pertanian di KWT Grogol dengan jumlah anggota 15 orang wanita tani.

Inovasi teknologi yang diintroduksikan melalui kegiatan M-P3MI di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul telah diadopsi dan dikembangkan petani karena dinilai mampu menunjukkan peningkatan efisiensi usaha maupun pendapatan petani baik melalui peningkatan produktivitas maupun penghematan biaya produksi. Inovasi teknologi tersebut untuk usahatani lahan lahan beririgasi adalah penggunaan varietas unggul padi Inpari 13, sistem tanam jajar legowo dan pemupukan spesifik lokasi berbasis penggunaan pupuk organik. Untuk lahan kering adalah penggunaan varietas unggul padi Inpago 4, Inpago 5, dan Inpago 6, VUB kedelai dan jagung serta sistem tanam jajar legowo dan pemupukan spesifik lokasi berbasis penggunaan pupuk organik. Untuk usaha ternak adalah pembuatan pupuk organik, fermentasi jerami dan pakan konsentrat. Disamping itu, usaha pengolahan hasil untuk pemberdayaan kelompok wanita tani melalui pembinaan usaha pembuatan kerupuk jagung yang kini telah mulai berkembang di pasaran lokal.

Penguatan kelembagaan dilakukan dengan intensifikasi pertemuan untuk meningkatkan koordinasi melalui musyawarah tani, pemupukan modal kelompok serta pelatihan teknis, manajemen dan kelembagaan. Hasil yang diperoleh tersebut tidak lepas dari kerja bersama antara petani dan tim pelaksana serta penyuluh lapangan dari instansi terkait di lapangan. Selanjutnya, untuk pemantapan dan pengembangan penerapan model masih sangat diperlukan pendampingan yang tentunya hal ini tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan dari para penentu kebijakan baik dari Pemda maupun instansi teknis. Untuk itu penguatan sinergi program dan kerjasama yang lebih optimal demi mewujudkan keberhasilan program pertanian nasional maupun daerah perlu dikembangkan lebih lanjut.

 
MKRPL Kabupaten Kulon Progo PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 25 November 2013 09:51

Model optimalisasi kawasan pekarangan     rumah tangga petani pada strata pekarangan sempit, sedang dan luas di Kulon Progo ada empat karakteristik, yaitu 1) Karakteristik petani dan nelayan di Dusun Trisik, Desa Banaran, Kecamatan  Galur, 2) Karakteristik pegunungan dengan kebun campuran binaan SIKIB di Dusun Segajih, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, 3) Karakteristik lahan kritis, KWT Putri Manunggal di Dusun Pergiwatu Wetan, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo dan 4) Karakteristik pekarangan tanaman kakao integrasi lada KWT Lestari Wening, Dusun Karangasem, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pengasih. Model KRPL yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah model KRPL di KWT Putri Manunggal, Srikayangan, Sentolo. Perkembangan model kawasan pangan lestari (MKPL) sampai akhir tahun 2012 dari 4 menjadi 7 lokasi, jumlah peserta rumah pangan lestari (RPL) dari 60 KK menjadi 148 KK. Penghematan pengeluaran keluarga setelah panen sayuran di pekarangan berkisar Rp 60.000,00 - Rp 90.000,00/bulan. Perkembangan KBD sangat dipengaruhi oleh kelembagaan KWT, kebutuhan benih dan intensitas pendampingan petugas.

Bentuk usaha MKRPL antara lain budidaya sayuran di polibag sebanyak 100-500 polibag/KK, tanaman yang diusahakan brokoli, slada, kacang panjang dan pare. Pembuatan bag log dan budidaya jamur tiram untuk usaha agribisnis mampu memberikan keuntungan (B/C) sebesar 1,75. Pengendalian OPT seperti kutu kebul dan ayam menggunakan screen dan pagar. Pembuatan tampungan air sistem terpal untuk antisipasi dampak perubahan iklim dan memungkinkan memelihara ikan diterapkan di Sentolo, Pengasih dan Kokap.  Penanaman biofarmaka (jahe, kencur, laos, dan sebagainya) di polibag ternyata lebih praktis dan  ekonomis serta memberikan kontribusi pendapatan keluarga. Penanaman tanaman buah-buahan (sirsat, nangka genjah, mangga, jambu merah, matoa, pepaya) untuk pelestarian plasma nutfah di lahan pekarangan nelayan Trisik, Banaran, Galur dan lahan sub optimal di Srikayangan, Sentolo. 

Kebun bibit desa (KBD) dengan  ukuran bervariasi disesuaikan kebutuhan tiap MKRPL, ukuran terkecil 4 x 6 m2 dan terbesar 7 x 6 m2. KBD dilengkapi dengan atap plastik UV atau plastik gelombang, dinding dipasang screen kasa untuk pencegahan OPT. Ruang di dalam KBD dilengkapi dengan rak semai benih, kotak semai dan lampu penerangan dan instalasi irigasi. Sekitar KBD dibuat show window untuk budidaya sayuran di tanah pekarangan maupun di polibag. Rerata peningkatan nilai PPH sebesar 12,85 (awal 66,25, akhir 79,10). Nilai pola pangan harapan (PPH) di lokasi MKRPL SIKIB mencapai 72 sampai 84. Nilai PPH di lokasi MKRPL Dusun Trisik, Banaran, Galur, Kulon Progo (lokasi Nelayan) berkisar 71,17 sampai 82,01. Nilai PPH di lokasi MKRPL Pergiwatu Wetan Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo berkisar 48,05 sampai 62,56.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com