Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
KRPL
Tikus
Proquest
100 Teknologi
Pengenalan Ayam KUB
e-Produk

Galeri Foto

Berita
Sinergisme PSDSK di Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ir. Ari Widyastuti   
Selasa, 08 April 2014 08:22

Program Swa Sembada Daging Sapi dan Kerbau  atau yang lebih dikenal dengan PSDSK, merupakan salah satu dari 5 Program Utama Kementerian Pertanian yang betujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik. Kabid Peternakan Dinas Pertanian DIY mengatakan bahwa pada 2013 target capaian produksi daging tahun 2013 surplus 37%, namun demikian angka capaian untuk populasi dan pengeluaran ternak masih di bawah target. Oleh karena itu  PSDSK tahun 2014 diperlukan koordinasi lebih intensif dan persepsi yang sama antar lembaga/instansi dan stakeholder yang membidangi peternakan dalam meningkatkan produksi dan produktivitas ternak sapi dan kerbau, sehingga tujuan program PSDSK tercapai. Adapun target kinerja tahun 2013 populasi sapi potong sebesar 292.005 ekor, produksi daging  8.000 ton, dan pengeluaran ternak 2.500 ekor untuk tujuan DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Terkait dengan hal tersebut, maka bertempat di BPTP Yogyakarta diselenggarakan pertemuan intsitusi dan pemangku kepentingan  terkait, antara lain Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Propinsi DIY, Dinas Pertanian/Peternakan  Sleman, Kulonprogo, Gunung Kidul dan Bantul, serta Kepala Puskeswan dan kepala BPP kecamatan Pleret serta Ketua Kelompoktani Ngudi Mulyo. Pertemuan tersebut bertujuan  untuk melakukan sinergi kegiatan pendampingan PSDSK, khususnya dalam menyamakan persepsi tentang konsep  Laboratorium Lapangan(LL)/Sekolah Lapang (SL) dalam Pendampingan PSDSK.

BPTP Yogyakarta selaku institusi penanggung jawab kegiatan pendampingan PSDSK, telah 3 (tiga) tahun melakukan pendampingan di Kelompoktani Ternak Ngudi Mulyo, Desa Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul sebagai  Laboratorium Lapangan (LL) pembibitan dan penggemukan sapi potong.  Dengan pendampingan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas ternak sapi potong. Adapun materi pendampingan meliputi komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan. Komponen yang dimaksud yaitu pemilihan bibit bakalan (jenis ternak, jenis kelamin, umur, kondisi badan, ukuran tubuh), perkandangan (individu, kelompok), pakan (hijauan, konsentrat, air minum), teknologi pakan murah ,teknologi penanaman rumput unggul dan leguminosa),  integrasi tanaman-ternak dan teknologi pengolahan limbah kandang.  Dr. Suhardono mewakili Kepala Puslitbangnak menyampaikan bahwa teknologi untuk mendukung PSDSK meliputi : teknologi diagnostika, suplemen probiotik untuk ternak , dan pengendalian cacing hati dengan menggunakan musuh alami berupa itik atapun ayam melalui  pola integrasi ternak sapi - itik atau ayam.

Sinergisme kegiatan pendampingan PSDSK perlu terus dilakukan  untuk mencapai tujuan Program Swasembada Daging di DIY, agar Yogyakarta sebagai  satu dari  9 propinsi surplus daging ternak sapi dapat dipertahankan dan jika memungkinkan dapat mendorong dalam mengembalikan citra Indonesia sebagai eksportir ternak sapi di masa lalu.(AW-Yk)

LAST_UPDATED2
 
Cara Sederhana Pengendalian Keong Mas PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Suharno   
Jumat, 04 April 2014 15:58

Keong Mas menjadi salah satu hama tanaman padi dari sederetan hama yang dihadapi petani dalam usaha budidaya padi. Binatang ini menyerang tanaman padi setelah tanam terutama umur bibit yang digunakan masih muda. Jika tidak waspada, tanaman padi tersebut menjadi sasaran Keong Mas terlebih lagi tanaman padi yang tergenang air.

Teknik pengendalian Keong Mas secara sederhana dapat dilakukan secara manual dengan mengambil Keong Mas yang terdapat pada lahan sawah sebelum dan sesudah ditanami padi. Selain itu, pengendalian Keong Mas dapat dilakukan dengan cara mengeringkan petak sawah sesudah ditanami. Untuk mempercepat pengeringan dapat dilakukan dengan membuat saluran air pada sisi kanan dan kiri petakan sawah. Cara ini dapat menghindarkan tanaman padi dari serangan hama Keong Mas.

Alternatif pengendalian lainnya dengan memberikan umpan yang disukai Keong Mas, salah satunya menggunakan daun ataupun buah pepaya. Buah pepaya yang digunakan sebaiknya dalam kondisi mentah atau masih keras selanjutnya dipotong kecil-kecil. Daun dan buah pepaya yang telah dipotong-potong selanjutnya diletakkan pada lokasi yang tergenang air maupun pada selokan pada sore hari. Pengambilan Keong Mas dengan menggunakan serok ikan yang dilakukan pada pagi berikutnya setelah pemberian umpan, Keong Mas akan mengumpul dibalik daun maupun mengelilingi buah pepaya yang diumpankan.

LAST_UPDATED2
 
Pengelolaan UPBS Kedelai BPTP Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Selasa, 01 April 2014 07:33

Pengelolaan UPBS Kedelai BPTP Yogyakarta, berdasarkan referensi Pedoman Umum Produksi dan Distribusi Benih Sumber Kedelai (Kementerian Pertanian, 2013) merupakan tindak lanjut dari terbitnya Surat Tugas Menteri Pertanian Nomor 3361/KP.3401M11/11/2013 Kepada Badan Litbang Pertanian untuk memproduksi benih sumber kedelai dari kelas Benih Penjenis (BS) sampai Benih Pokok (BP).  Badan Litbang Pertanian telah melepas sejumlah varietas unggul baru (VUB) kedelai, tetapi yang dimanfaatkan petani masih terbatas. Keberhasilan penyebaran VUB kedelai tidak lepas dari upaya pengembangan sistem perbenihan. Kelancaran alur distribusi benih, mulai dari benih penjenis, benih dasar, benih pokok sampai benih sebar dengan prinsip enam tepat  (tepat varietas, harga, waktu, lokasi, jumlah dan mutu), sangat menentukan pengembangan dan penggunaan varietas unggul kedelai oleh petani. Target UPBS benih Kedelai BPTP Yogyakarta tahun 2014 FS 7,85 ton dan SS 157,7 ton. Menurut  Sarjiman, SP.MSi selaku Wakil manager UPBS Kedelai BPTP Yogyakarta menyatakan bahwa produktivitas kedelai di wilayah DIY rata-rata 1,5 – 1,8 ton/ha dengan perlakuan budidaya yang baik, sedangkan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul produktivitas mencapai 1,8 – 2.0 ton/ha dengan menerapkan budidaya kedelai dengan baik, jika dengan hanya system budidaya sebar langsung bekas lahan panen padi seperti di Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo, produktivitasnya hanya 0,5 – 0’7 ton/ha. Dengan budidaya yang baik swasembada produksi kedelai di DIY dapat tercapai.

Produksi Kedelai UPBS BPTP Yogyakarta mengikuti pedoman umum Produksi dan Distribusi Benih Sumber Kedelai dengan  memperhatikan: (1) Benih  BS atau FS dari Balitkabi Malang, (2) UPBS Kedelai BPTP Yogyakarta  menerapkan sistem kerjasama  dengan penakar benih/kelompok tani untuk memproduksi benih dengan sistem biasanya bagi hasil  50 : 50 dengan memberikan saprodi seperti: benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja oleh UPBS BPTP Yogyakarta, kuwajiban petani menjaga keamanan lahan dan sertifikasi benih oleh BPSB (3) Distribusi benih dengan cara: a) Untuk disiminasi/pengenalan VUB ke penangkar benih, kelompok tani/petani, b) Komersial untuk setor ke kas negara (PNBP) dan c) Syarat diseminasi untuk pendampingan program SL-PTT Kedelai.  (4) Varietas yang ditanam berdasarkan preferensi petani di wilayah DIY antara lain: umur genjah, berbiji sedang atau besar, warna kuning bersih, produksi tinggi dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit kedelai. Dalam upaya mendukung penyediaan benih unggul bermutu, program perbenihan kedelai meliputi optimalisasi pengembangan VUB, produksi dan distribusi benih, pengendalian mutu melalui sertifikasi benih dan optimalisasi fungsi kelembagaan perbenihan kedelai di DIY.

Teknik produksi benih kedelai pada umumnya tanaman diupayakan untuk tumbuh sehat, bebas dari cekaman organisme  pengganggu tumbuhan (OPT), dan mengakomodasi teknologi pascapanen agar benih yang dihasilkan terjamin mutunya. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam produksi benih kedelai adalah: (1) Kegiatan produksi dilakukan di sentra produksi, pada lahan subur dengan sumber pengairan yang memadai, dan tidak dilokasi endemik hama penyakit kedelai, (2) Penanaman dilakukan pada waktu yang tepat. Tanam lebih awal atau terlambat menyebabkan tanaman berpotensi terserang hama dan penyakit. Tanam  pada satu hamparan dapat mengurangi biaya produksi dan menekan serangan hama dan penyakit, (3) Pemeliharaan tanaman dilakukan secara optimal. Penyiangan yang terlambat tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman akibat persaingan dengan gulma, tetapi juga meningkatkan biaya penyiangan. Hama dan penyakit dikendalikan secara terpadu. Pestisida digunakan apabila komponen pengendalian yang lain tidak efektif. Aplikasi pestisida perlu tepat waktu, tepat sasaran, tepat dosis, dan tepat jenis, dan (4) Panen dilakukan pada saat yang tepat. penundaan waktu panen menyebabkan hilangnya sebagian hasil pada saat panen. Penanganan pascapanen dengan tepat waktu penting artinya untuk mendapatkan benih yang bermutu.

 
Akselerasi Pengembangan Teknologi Budidaya Krisan di DIY PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Sinung Rustijarno, S.Pi, M.Si   
Kamis, 27 Maret 2014 13:53

Prospek bunga krisan pada saat ini semakin  baik dan diminati oleh pembudidaya tanaman hias di Yogyakarta. Keunggulan bunga krisan memiliki masa tanam yang singkat dan harganya yang stabil, menjadikan krisan tanaman hias yang mempunyai prospek cerah untuk dibudidayakan khususnya di daerah dataran tinggi maupun medium. Permintaan yang tinggi dari pengguna diantaranya florist, dekorator, toko bunga, hotel dan tempat ibadah membutuhkan inovasi teknologi budidaya dan penyediaan benih krisan yang baik. Yogyakarta termasuk 3 lokasi yang ditunjuk sebagai sebagai sentra perbenihan krisan selain di Cipanas (Cianjur) dan Tomohon (Sulut), sehingga peluang sebagai pemasok benih juga terbuka lebar. Diversifikasi produk krisan juga telah dilakukan dengan memanfaatkan bunga dan daun krisan menjadi produk olahan pangan. Untuk mendorong pengembangan teknologi budidaya krisan di Yogyakarta telah dilakukan diseminasi melalui multimedia diantaranya siaran televisi bekerjasama dengan Surya Citra Televisi (SCTV).

SCTV melalui Production House Samuan, menayangkan program Cerita Dari Sahabat (ditayangkan setiap hari Minggu pukul 06.30-07.00 WIB), bertujuan mengangkat potensi desa dan daerah rural urban, khususnya potensi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan energi terbarukan. Dengan mengekspose hal tersebut diharapkan banyak pihak yang kembali melirik potensi desa untuk dikembangkan, untuk menarik investor dan terutama mengajak sumberdaya manusia terbaik untuk kembali membangun desa. Program tersebut dibuat agar teknologi pertanian/peternakan/perikanan hasil karya anak bangsa dapat terekspose dalam satu tayangan yang dikemas secara lebih menarik. ‎

BPTP Yogyakarta sebagai motor penggerak inovasi pertanian di Yogyakarta dalam episode ke-3 Cerita Untuk Sahabat dari SCTV mengisi materi Sentuhan Teknologi Budidaya Krisan di DIY. Host dari program ini adalah Ibu Siti Hediati, SE (Titik Suharto) yang tertarik dalam pengembangan komoditas hortikultura dengan narasumber Kepala BPTP Yogyakarta (Dr. Sudarmaji). ‎Terkait dengan krisan, yang ingin diangkat adalah optimalisasi pemanfaatan lahan, teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen krisan, yang hingga saat ini dalam skala industri di Indonesia belum berkembang. Jenis bunga krisan yang dikembangkan termasuk 6 VUB spesifik lokasi Yogyakarta (Ratnahapsari, Kusumasakti, Sasikirana, Kusumaswasti, Kusumapatria, Cintamani) dan Varietas lokal lainnya (Puspa Nusantara, Mustika Kania, Sakuntala, Regent, Monalisa). Varietas yang menjadi preferensi konsumen adalah krisan dengan warna kuning, putih dan merah dengan segala variannya (60%), sisanya warna lain (40%). Kebutuhan bunga krisan di DIY mencapai 5.000 ikat/minggu (250.000 ikat/tahun) dengan kisaran harga Rp 10-15 ribu/ikat (jumlah per ikat 10 – 12 batang). Kebutuhan tersebut baru terpenuhi sekitar 30% dari lokal DIY sedangkan 70% masih dipasok dari luar DIY (Bandungan, Pasuruan, Malang). Kerjasama pemasaran telah dijalin dengan pengusaha bunga dan Asosiasi Petani Bunga dan Daun Potong Yogyakarta (Astabunda).Diharapkan dengan teknologi yang ada, membuka peluang usaha bagi masyarakat untuk lebih banyak membudidayakan krisan, termasuk budidaya krisan di dataran rendah dan  mengolah krisan menjadi produk yg memiliki nilai tambah seperti teh krisan, permen (jelly) dan peyek daun krisan.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com