Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
KRPL
banner2
UPBS BP2TP
Tikus
Pengenalan Ayam KUB

Galeri Foto

Berita
Seminar Proposal Pengkajian dan Diseminasi 2014 PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 20 Januari 2014 13:27

Guna mempertajam Proposal Kegiatan Pengkajian dan Diseminasi BPTP Yogyakarta tahun 2014 dilakukan Seminar yang berlangsung pada hari Kamis (16/1) di Ruang Rapat BPTP Yogyakarta. Seminar ini sebagai upaya awal penyampaian informasi rencana pelaksanaan kegiatan tahun 2014 sekaligus menjaring saran dan masukan bagi penyempurnaan proposal tersebut. Proposal yang disajikan sejumlah 10 judul kegiatan pengkajian dan 23 judul kegiatan diseminasi tahun 2014 yang dipresentasikan oleh penanggung jawab kegiatan dan dihadiri peneliti, penyuluh dan pustakawan BPTP Yogyakarta.

Pembahas seminar proposal oleh peneliti dan penyuluh senior untuk mencermati tujuan, keluaran, metodologi serta hal lain yang berkaitan dengan materi yang disajikan. Kepala BPTP Yogyakarta selain menjadi pembahas utama juga sebagai pengarahan kepada seluruh penanggungjawab agar sesuai program yang akan dicapai BPTP Yogyakarta pada tahun 2014. Hasil pembahasan dan evaluasi proposal, terdapat dua kategori perbaikan yang perlu dilakukan oleh para penanggung jawab kegiatan yaitu perbaikan ringan dan sedang untuk segera ditindaklanjuti oleh masing-masing pelaksana kegiatan.

 
Cara Perbanyakan Kakao di Gunung Kidul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 13 Januari 2014 08:00

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan cukup penting dalam perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Salah satu daerah yang sedang mengembangkan kakao adalah Kabupaten Gunung Kidul. Luas areal tanaman kakao di Gunung Kidul mencapai 1.116,7 ha dengan produksi rata-rata 0,75 ton/ha dengan melibatkan 8.752 kepala keluarga (KK) tani.


Benih kakao di Gunung Kidul berasal dari Medan, Sumatera Utara dan Jember, Jawa Timur yang ditanam pertama kali pada tahun 1988. Benih tersebut adalah hibrida hasil persilangan antara Forastero (bulk cocoa atau kakao lindak) dengan Criolo (fine cocoa atau kakao mulia). Dari berbagai jenis yang ditanam terdapat dua jenis yang tergolong unggul karena tahan Helopeltis dan busuk buah. Selain itu mutu kakaonya tergolong baik, hal ini diperkirakan karena adanya pengaruh faktor lingkungan tumbuh, yaitu kadar kapur tinggi.


Sumber benih kakao  di Kabupaten Gunung Kidul salah satunya terdapat di Dusun Plumbungan, Desa Putat Kecamatan Patuk. Lokasinya mudah dicari karena di desa itu juga terdapat pembuatan kerajinan topeng yang terkenal. Pembibitan kakao dikoordinir oleh Kelompok Tani Ngudi Subur yang diketuai Slamet Raharjo. Selain pembibitan kakao di lokasi tersebut juga  terdapat sarana untuk pelatihan  perbanyakan bahan tanam sampai ke pengolahan hasilnya. Daerah yang sedang mengembangkan kakao dalam skala besar seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara pernah mengirim petaninya untuk belajar tentang perbanyakan dan pengolahan kakao.


Salah satu usaha untuk memperoleh keseragaman produktivitas dan mutu biji kakao, adalah dengan menggunakan perbanyakan secara klonal. Ada beberapa cara dalam perbanyakan klonal  namun yang tingkat keberhasilannya tinggi dan mudah dilaksanakan adalah dengan menggunakan metode sambung samping, seperti yang dilakukan oleh Kelompok Tani Ngudi Subur. Tanaman kakao yang berproduksi rendah dapat ditingkatkan produktivitasnya dengan disambung samping menggunakan klon unggul sebagai batang atasnya. Selain itu sambung samping juga dapat digunakan untuk mengganti pertanaman yang rentan terhadap hama atau penyakit dengan klon yang tahan.


Keberhasil sambung sambung dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: (1) batang bawah dan atas (entres) harus sehat, (2) entres sedapat mungkin terhindar dari dehidrasi dan (3) tenaga sambung yang terampil. Batang bawah yang sehat ditandai dengan mudahnya kulit batang dikelupas dan warna kambiumnya putih bersih. Entres berasal dari klon yang produksinya tinggi dan stabil serta tahan terhadap hama dan penyakit utama kakao. Entres diambil dari ujung cabang plagiotrop yang sedang dorman dengan warna hijau kecoklatan dan sudah berkayu. Enters yang sudah dipotong idealnya harus segera disambung pada hari yang sama, namun apabila lokasinya jauh maka harus dikemas terlebih dahulu agar tetap segar saat disambung. Pengemasan dapat dilakukan secara sederhana menggunakan kulit batang pisang namun ada juga yang dibalut dengan serbuk gergaji, dilapis kertas Koran dan plastic lalu digulung dan dimasukkan ke dalam dos. Pada perlakuan yang kedua tingkat ketahanannya akan lebih lama. Tenaga penyambung harus sudah terampil sehingga tingkat keberhasilannya bias tinggi.


Pelaksanaan sambung samping agak rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi. Awalnya pada batang bawah dengan ketinggian kurang lebih 50-70 cm dari permukaan tanah ditoreh menggunakan pisau okulasi secara vertikal sejajar kulit batang kakao. Berdasarkan pengalaman di lapang apabila agak tinggi maka entres cepat berkembang dengan baik namun untuk menjadi buah lama, sebaliknya kalau terlalu rendah,  entres lama pertumbuhannya tetapi  cepat berbuah. Dengan fenomena tersebut maka petani cenderung memilih di bagian tengah. Panjang torehan sekitar 5 cm dengan jarak antar torehan 1-2 cm atau seukuran dengan garis tengah entres yang akan disisipkan. Penorehan dilakukan sampai menyentuh kambium. Lalu ujung atas torehan dipotong miring ke bawah sampai menyentuh kambium. Entres yang telah disiapkan dengan panjang sekitar 12 cm pangkalnya disayat miring sehingga berbentuk seperti baji. Kulit batang ditarik ke bawah sekitar 3 cm dan entres disisipkan secara perlahan lalu kulit batang ditutup kembali. 


Entres dikerodong dengan plastik kemudian diikat erat dengan tali rafia sehingga air hujan tidak masuk ke dalam sayatan dan sayatan dapat menempel dengan baik. Penutupan dapat juga dilakukan dengan plastik lembaran yang diikat pada masing-masing ujungnya dengan tali rafia, cara yang kedua ini banyak dilakukan di daerah Gunung Kidul. Dua sampai tiga minggu setelah penyambungan, hasil sambungan diperiksa keberhasilannya. Apabila entres masih segar maka penyambungan berhasil namun jika kering atau busuk maka gagal (mati). Pengecekan ini dilakukan tanpa membuka kerodong entres. Penyambungan yang gagal dapat diulang pada sisi berlawanan dengan letak penyambungan awal. Plastik kerodong entres dibuka setelah tunas pada entres sudah mencapai 2 cm. cara pembukaan plastik kerodong dengan disobek dari ujung tanpa melepas tali ikatannya sehingga plastik akan menggantung di tali hal ini untuk mengantisipasi belum menyatunya entres dengan batang.  Pelaksanaan sambung samping yang dilakukan Kelompok Tani Ngudi Subur, Gunung Kidul dapat dilihat pada Gambar 1.


Produksi rata-rata biji kering kakao di Desa Putat pada tingkat petani hanya 0,8 kg/pohon/tahun  dengan rendemen 31% dan kadar air 10%. Apabila perawatannya dilakukan secara intensif dapat menghasilkan 1,5 - 2 kg/pohon/tahun biji kering.   Karena bermutu tinggi, kakao asal Putat banyak diminati oleh konsumen, salah satunya adalah PT. Pagilaran  Yogyakarta  yang menjalin kerjasama dengan Kelompok Tani Ngudi Subur. Semua kakao asal Patuk baik yang sudah difermentasi maupun yang belum dibeli oleh perusahaan tersebut dengan harga  Rp.20.000/kg.


Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar

LAST_UPDATED2
 
Budidaya Bawang Merah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Sabtu, 11 Januari 2014 08:10

PENDAHULUAN

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk famili Liliaceae dan merupakan sayuran semusim, berumur pendek dan diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi, maupun generatif dengan biji (TSS=True Shallot Seed). Pada umumnya bawang merah dikonsumsi setiap hari sebagai bumbu masakan, dan juga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk menurunkan suhu tumbuh orang sakit.

PERSYARATAN TUMBUH

  • Tanaman bawang merah cocok tumbuh di dataran rendah sampai tinggi  (0–1000 m dpl) dengan ketinggian optimum 0-450 m dpl.
  • Syarat tumbuh lainnya antara lain ialah cahaya matahari minimum 70%, suhu udara 25-320C, dan kelembaban nisbi 50-70%. Struktur tanah remah, tekstur sedang sampai tinggi, drainase  dan aerasi yang baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan pH tanah netral (5,6– 6,5)
  • Jenis tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah ialah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau Latosol

 

BUDIDAYA TANAMAN

Varietas yang dianjurkan

Varietas yang dianjurkan  antara lain ialah Bima Brebes, Kuning, Kramat 1, Kramat 2

 

Persiapan Tanah

Pada lahan bekas padi sawah atau bekas tebu

  • Tanah dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,75 m dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan, kedalaman parit 50–60 cm dan lebar parit 40–50 cm.
  • Kondisi bedengan mengikuti arah Timur-Barat.
  • Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering kemudian diolah lagi 2–3 kali sampai gembur sebelum dilakukan perbaikan bedengan-bedengan dengan rapi.
  • Sisa tanaman padi/tebu yang tertinggal dibersihkan

 

Pada lahan tegalan atau Lahan kering

  • Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 40 cm, sedangkan panjangnya tergantung pada kondisi lahan.
  • Lahan dengan pH kurang dari 5,6 diberi Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1–1,5 ton/ha/tahun (untuk dua musim tanam berikutnya) yang disebar pada permukaan tanah dan kemudian diaduk rata.

 

Penanaman

  • Pemotongan ujung bibit hanya dilakukan apabila bibit bawang merah belum siap ditanam (pertumbuhan tunas dalam umbi 80%)
  • Kebutuhan umbi bibit 1-1.2 ton/ha dengan ukuran umbi sedang (5-10 g)  dan berumur 2-3 bulan dari panen (ciri  tunas sudah samapai ke ujung umbi)
  • Jarak tanam yang digunakan 20 cm x 15 cm

 

Pemupukan

Pada lahan bekas padi sawah atau bekas tebu

  • Pupuk dasar berupa pupuk buatan 300 kg SP-36/ha 60 kg KCl/ha dan 500 kg NPK mutiara (16:16:16) disebar serta diaduk rata dengan tanah, tujuh  hari sebelum tanam.
  • Pupuk susulan berupa 180 kg Urea/ha,  atau 400 kg ZA/ha dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan pada umur 30-35 hari setelah tanam adalah 180 kg Urea/ha.

 

Pada Lahan Tegalan/Lahan Kering

  • Pupuk dasar berupa pupuk kandang sapi /kuda (15-20 ton/ha) atau kotoran ayam (5-6 ton/ha) atau kompos (2,5-5 ton/ha) dan pupuk buatan SP-36 (250 kg/ha).  Pupuk dasar diberikan dengan cara  disebar serta diaduk rata dengan tanah 1-3 hari sebelum tanam.
  • Pemupukan susulan menggunakan Urea (150-200 kg/ha), ZA (300-500 kg/ha) dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan pada umur 1 bulan setelah tanam masing-masing ½ dosis. Atau menggunakan pupuk majemuk NPK (16-16-16) 600 kg/ha yang diberikan seminggu sekali  dengan cara dicor disekitar tanaman

 

Pemeliharaan

  • Tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup banyak selama  pertumbuhan dan pembentukan umbi, terutama pada musim kemarau.
  • Pada lahan bekas sawah, penyiraman dilakukan satu kali sehari pada pagi atau sore hari sejak tanam sampai umur menjelang panen.
  • Pada musim hujan,penyiraman ditujukan untuk membilas daun tanaman dari tanah yang menempel. Periode kritis dari kekurangan air terjadi saat pembentukan umbi.
  • Penyiangan dilakukan  2–3 kali selama satu musim tanam, terutama  pada umur 2 minggu setelah tanam
  • Perbaikan pinggir bedengan dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan

Pengendalian dengan menggunakan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu:

  1. Secara kultur teknis (pemupukan berimbang, penggunaan varietas tahan OPT, penggunaan musuh alami (parasitoid, predator dan patogen serangga).
  2. Secara mekanik (pemotongan daun yang sakit atau terdapat kelompok telur  Spodoptera exigua, penggunaan jaring kelambu, penggunaan feromon seks, perangkap kuning,  perangkap lampu dll).
  3. Penggunaan bio–pestisida.
  4. Penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian

 

Panen dan Pascapanen

Panen bawang merah dilakukan setelah umurnya cukup tua, biasanya pada umur 60–70 haridengan tanda-tanda berupa leher batang 60% lunak, tanaman rebah dan daun menguning

Bawang merah yang dipanen diikat pada batangnya untuk mempermudah penanganan  dan umbi dijemur sampai cukup kering (1-2 minggu) di bawah sinar matahari langsung.

Jika tidak langsung dijual, umbi disimpan dengan cara menggantungkan ikatan bawang merah atau disimpan di rak di gudang khusus, pada suhu 25-30ºC dan kelembaban rendah (± 60-80%).

Sumber:Balai Penelitian Sayuran Lembang

LAST_UPDATED2
 
Pengendalian Tikus Sistem LTBS PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 10 Januari 2014 14:16

Linear Trap Barrier System (LTBS) adalah teknologi perangkap tikus dengan menggunakan perangkap bubu. Teknologi ini terbukti efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus sejak awal tanam hingga panen. LTBS sangat efektif diterapkan pada daerah endemik tikus dengan tingkat populasi yang tinggi.

LTBS (Linear Trap Barrier System) atau Sistem Bubu Perangkap linier merupakan bentangan pagar plastik/ terpal setinggi 50 - 60 cm, dengan panjang minimal 100 m. Bubu perangkap pada LTBS dipasang setiap jarak 20 m secara berselang-seling, sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat & sawah). LTBS dirancang berdasarkan pola pergerakan tikus sawah, sehingga tidak memerlukan bahan umpan atau tanaman perangkap.


LTBS direkomendasikan untuk dipasang pada perbatasan antara sawah dengan habitat utama tikus atau untuk memotong jalur migrasi tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk ke dalam bubu perangkap.

PEMASANGAN LTBS

Plastik pagar LTBS dibentangkan diantara sawah dengan habitat tikus, kemudian ajir bambu ditegakkan, selanjutnya bubu perangkap dipasang pada tempat yang telah disiapkan.

PEMELIHARAAN TBS dan LTBS

TBS / LTBS diperiksa setiap pagi. Hewan bukan sasaran (katak, kadal, ular dll.) yang masuk bubu perangkap dilepaskan. Tikus hasil tangkapan dimatikan dengan cara direndam kedalam air bersama perangkap bubunya selama ± 10 menit.
Pagar plastik diperiksa, apabila berlubang segera diperbaiki/ dilakukan penambalan.
Parit dipastikan selalu terisi air agar ujung bawah pagar plastik senantiasa terendam sehingga tikus tidak bisa mencapai tanaman perangkap. Gulma dibersihkan di parit TBS karena tikus mampu memanjatnya untuk jalan masuk ke dalam petak tanaman perangkap TBS.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com