Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Proquest
Pengenalan Ayam KUB
100 Teknologi
KRPL
Tikus
e-Produk

Galeri Foto

Berita
Pengendalian Hama Tikus Terpadu di Sleman dan Bantul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Jumat, 02 Mei 2014 14:04

Kegiatan Sosialisasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman dan Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta di Balai Desa Sumber Rahayu pada hari Rabu (30 April 2014) yang diikuti oleh  65 peserta terdiri dari Dinas Pertanian DIY, Dinas Pertanian,  Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Dinas Pertanian Kabupaten Bantul, PPL Kecamatan Moyudan, PPL Kecamatan Sedayu, Koramil dan Polsek Kecamatan  Moyudan, , Koramil dan Polsek Kecamatan Sedayu, , Kepala Desa  Sumber Rahayu, Kelompok Tani Dusun Sangubanyu dan Goser Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman dan Kelompok tani Dusun Jaten dan Curug Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul.

Dalam Sambutan Kepala Dinas Pertanian DIY yang diwakili oleh Ir.Suparjono menyatakan bahwa pengendalian hama tikus terpadu ini sangat penting karena produktivitas padi dapat tercapai apabila tidak ada seranggan hama tikus di daerah endemik hama tikus, sinergis dan keterpaduan teknis pemberantasan sangat diperlukan. Dalam pengantar kegiatan PHTT yang disampaikan oleh Dr. Bambang Sutaryo bahwa Tikus merupakan hama utama yang menimbulkan kerusakan besar pada tanaman padi sehingga sinergis cara pemberantasan hama tikus perlu mendapat perhatian bersama, serangan karena petani dalam usahatani pola tanam kurang serempak, penggunaan benih varietasnya beragam, dan sanitasi lingkungan tidak terjaga. Eksplosi seranggan hama tikus biasanya lebih cepat karena faktor-faktor tersebut kurang mendapat perhatian dari para petani didaerah endemik tikus.

Kepala BPTP Yogyakarta Dr. Sudarmaji dalam paparannya tentang Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di DIY mengatakan bahwa  bio-ekologi siklus dan kebiasaan hidup tikus  sangat penting untuk diketahui agar dalam usaha pengendalian hama tikus dapat berhasil dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: (1) Pola tanam padi-padi-padi penyebab tingginya populasi tikus, (2) Pengairan yang bergilir, menyebabkan pola tanam tidak serempak, (3) Penggunaan varietas benih tahan hama terbatas  dan (4) Sanitasi lingkungan kurang terjaga. (5) Teknologi PHTT yang direkomendasikan untuk didipublikasikan meliputi: (liflet) terdiri 1. Tanam serempak, 2. Gropyokan missal (populasi turun 50%), 3.Biologi control/predator alami (Burung hantu, ular, musang, anjing, kucing), 4. Fumigasi/Pengomposan, 5.TBS, 6. LTBS dan 6. Rodentisida.  Teknologi pengendalian menggunakan Trap- Barrier System (TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS) sangat efektif diterapkan pada daerah endemik tikus dengan tingkat populasi tikus yang tinggi seperti  Kecamatan Moyudan dan Kecamatan Sedayu. Masalah dilapangan dalam pengendalian hama tikus  antara lain: (1) Monitoring kegiatan rendah, (2) Penanganan terlambat, (3) Adanya mitos petani bahwa tikus tidak boleh dibasmi (diteksi dini) dan (4) Pelaksanaan tidak berlanjut dan berkesinambungan dalam pengendaliannya.

LAST_UPDATED2
 
Kebutuhan Bibit Bunga Krisan Belum Terpenuhi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Suharno   
Rabu, 30 April 2014 07:48

Suplay bibit krisan untuk memenuhi kebutuhan bibit krisan di Kelompok Pembudidaya Krisan Kulon Progo belum dapat terpenuhi. Dari jumlah permintaan bibit 15.000 stek baru dapat disuplay sejumlah 12.000 stek, akibatnya penanaman bunga krisan di sebagian lokasi mengalami penundaan. Hal tersebut diungkapkan Sukarso Ketua Kelompo Tani Menoreh Ds. Gerbosari saat diskusi dalam acara sosialisI hasil dan rencana pengkajian dan diseminasi BPTP Yogyakarta di Bappeda Kabupaten Kulon Progo Kamis (24/4). Tanaman bunga krisan awalnya diintroduksikan di Desa Sidorejo Samigaluh Kulon Progo tahun 2011 jumlah kubung yang dibangun sebanyak 2 buah kubung dan saat ini jumlah kubung telah berkembang menjadi 62 buah.

Selain krisan, hal menarik perhatian Kepala Bappeda saat membuka sosialisasi berkaitan dengan varietas padi yang diperkenalkan di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Harapannya, varietas padi yang dikenalkan oleh BPTP Yogyakarta kepada petani tidak terlalu banyak tetapi memiliki karakteristik sesuai spesifik lokasi dengan lokal Kulon Progo hasil yang cukup tinggi. Sejalan dengan upaya peningkatan pendapatan petani, Pemerintah Daerah Kulon Progo melakukan kerjasama dengan Bulog melalui MOU dalam pemberian bantuan beras raskin yang dimodifikasi menjadi rasda (beras daerah berasal dari produksi petani.  Melalui cara ini bantuan raskin yang diberikan dijamin berkualitas dan dapat menyerap produksi petani.

Respon peserta sosialisasi lainnya terkait dengan sistim tanam jajar legowo yang masih belum bisa diterima oleh para penebas yang enggan menebas padi dengan sistem tanam tersebut. PPL sebagai ujung tombak diseminasi teknologi  mengharapkan agar dilakukan pengkajian sistem jajar legowo tersebut. Sinung Rustijarno S. Pi. M.Si mewakili Kepala BPTP Yogyakarta menanggapi permasalahan tersebut menyampaikan bahwa sistem jajar legowo berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Padi dan IRRI dapat meningkatkan produktifitas 17-33% dengan menggunakan sistem tajarwo 2:1; 3:1 dan 4:1 karena tanaman meningkat efek tanaman pinggir (borderside effek) sehingga dapat fotosintesis dapat maksimal.

LAST_UPDATED2
 
Budidaya Jagung Sistem Tanam Rapat PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 29 April 2014 10:56

Kendala umum yang dihadapi peternak di lahan kering adalah kontinuitas ketersediaan pakan hijauan yang tidak stabil sepanjang tahun. Salah satu upaya penyediaan pakan hijauan adalah dengan penanaman jagung monokultur berjarak tanam rapat.

Penanaman jagung sistem rapat membutuhkan benih 35-40 kg/ha, untuk tanaman yang direncanakan akan dijarangkan bisa menggunakan varietas lokal, sedangkan untuk tanaman yang direncanakan untuk dipanen biji dapat menggunakan varietas unggul. Populasi tanaman pada jarak tanaman rapat 20 cm x 20 cm dapat mencapai 300.000-3500.000 tanaman/ha, setelah berumur 30 Hari Setelah Tanam (HST) dilakukan panen tebon untuk pakan.

Penjarangan tanaman dilakukan secara bertahap hingga pada umur tanaman 60 HST jarak tanam menjadi 40 x 60 cm dengan populasi berkisar antara 90.000-120.000, dipelihara untuk panen jagung pipilan.

Pemupukan tanaman menggunakanpupuk kandang dosis 5-15 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah, dilanjutkan dengan pemupukan urea 200 kg/ha ditambah SP36 200 kg/ha ditambah KCl 100 kg/ha pada umur 7-10 HST. Selanjutnya pada umur 30-40 HST diberikan pupuk urea 200 kg/ha. Teknologi ini sejak tahun 2008 telah dikembangkan di Kelompok Tani Sido Maju, Dusun Toboyo Timur, Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul dengan 4 model frekuensi penjarangan.

Hasil tebon tercatat berkisar antara 19,9-22,5 t/ha, hasil jagung pipilan kering berkisar antara 4,2-4,6 t/ha. Manfaat teknologi ini adalah dapat menghasilkan jagung pipilan dan tebon sebagai pakan hijauan dan menghemat biaya pembelian pakan hijauan ketika   langka hijauan pada musim kemarau.

LAST_UPDATED2
 
Beras Glikemik Rendah Bermanfaat Penderita Diabetes PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Sabtu, 26 April 2014 06:54

Penderita diabetes mengalami gangguan metabolism distribusi gula sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga gula darah berlebihan. Dalam upaya penyembuhan para penderita diabetes umumnya disarankan mengkonsumsi obat secara rutin dan dikombinasikan dengan diet dan olah raga teratur. Oleh karena itu para diabetisi seringkali membatasi konsumsi nasi, karena beras dicurigai sebagai pangan hiperglikemik, pada hal beras mempunyai kisaran indeks glikemik yang cukup luas. Beberapa varietas unggul padi rakitan Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi mempunyai indeks glikemik rendah, sedang hingga tinggi. Beras-beras tersebut mempunyai karakteristik tekstur nasi yang pulen dan pera yang sesuai dengan preferensi konsumen berdasarkan daerah (etnis) tertentu.

Beras IR 36, Logawa, Batang Lembang, Cisokan, Margasari, Air Tenggulang dan Inpara 4 cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes yang berasal dari daerah (etnis) Sumatera Barat, Kalimantan Selatan maupun daerah (etnis) lain yang menyukai nasi bertekstur pera. Sedangkan beras Ciherang, Situ Patenggang, Pandanwangi, Inpari 1, beras hitam lokal Subang, Hipa 7 dan Inpari 13 cocok dikonsumsi penderita diabetes yang berasal dari daerah (etnis) Jawa maupun daerah lain yang menyukai nasi bertekstur pulen. Strategi diseminasi dan promosi yang tepat untuk mencapai target yang diinginkan oleh konsumen yang mempunyai nilai fungsional pangan bermanfaat untuk mencegah terjadinya penyakit degenerative serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pangan fungsional adalah pangan yang secara alami atau melalui proses tertentu mengandung satu atau lebih senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis yang bermanfaat bagi kesehatan, Indeks Glikemik (IG) adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap glukosa darah. Pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan cepat memiliki IG tinggi. Sebaliknya pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan lambat memiliki tingkat IG rendah. Nilai indeks glikemik pangan didefisinikan sebagai nisbah antara luas area kurva glukosa darah setelah makan 50 g glukosa pada hari yang berbeda, pada orang yang sama. Berdasarkan definisi tersebut, glikosa (sebagai standar) memiliki nilai IG 100, nilai IG dengan dikelompokkan menjadi IG rendah (< 55), sedang (55 – 70) dan tinggi (>70). Beras-beras yang mempunyai  IG rendah untuk penderita diabetes  antara lain: IR 36, Ciherang, Logawa, Batang Lembang, Cisokan, Margasari, Martapura, Air Tenggulang, Situ Patenggang, Pandanwangi (lokal aromatic), Beras hitam lokal Subang, Hipa 7, Inpari 12, dan Inpari 13.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com