Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
KRPL
Pengenalan Ayam KUB
Tikus
e-Produk
100 Teknologi
Proquest

Galeri Foto

Berita
Budidaya Jagung Sistem Tanam Rapat PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 29 April 2014 10:56

Kendala umum yang dihadapi peternak di lahan kering adalah kontinuitas ketersediaan pakan hijauan yang tidak stabil sepanjang tahun. Salah satu upaya penyediaan pakan hijauan adalah dengan penanaman jagung monokultur berjarak tanam rapat.

Penanaman jagung sistem rapat membutuhkan benih 35-40 kg/ha, untuk tanaman yang direncanakan akan dijarangkan bisa menggunakan varietas lokal, sedangkan untuk tanaman yang direncanakan untuk dipanen biji dapat menggunakan varietas unggul. Populasi tanaman pada jarak tanaman rapat 20 cm x 20 cm dapat mencapai 300.000-3500.000 tanaman/ha, setelah berumur 30 Hari Setelah Tanam (HST) dilakukan panen tebon untuk pakan.

Penjarangan tanaman dilakukan secara bertahap hingga pada umur tanaman 60 HST jarak tanam menjadi 40 x 60 cm dengan populasi berkisar antara 90.000-120.000, dipelihara untuk panen jagung pipilan.

Pemupukan tanaman menggunakanpupuk kandang dosis 5-15 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah, dilanjutkan dengan pemupukan urea 200 kg/ha ditambah SP36 200 kg/ha ditambah KCl 100 kg/ha pada umur 7-10 HST. Selanjutnya pada umur 30-40 HST diberikan pupuk urea 200 kg/ha. Teknologi ini sejak tahun 2008 telah dikembangkan di Kelompok Tani Sido Maju, Dusun Toboyo Timur, Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul dengan 4 model frekuensi penjarangan.

Hasil tebon tercatat berkisar antara 19,9-22,5 t/ha, hasil jagung pipilan kering berkisar antara 4,2-4,6 t/ha. Manfaat teknologi ini adalah dapat menghasilkan jagung pipilan dan tebon sebagai pakan hijauan dan menghemat biaya pembelian pakan hijauan ketika   langka hijauan pada musim kemarau.

LAST_UPDATED2
 
Beras Glikemik Rendah Bermanfaat Penderita Diabetes PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Sabtu, 26 April 2014 06:54

Penderita diabetes mengalami gangguan metabolism distribusi gula sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga gula darah berlebihan. Dalam upaya penyembuhan para penderita diabetes umumnya disarankan mengkonsumsi obat secara rutin dan dikombinasikan dengan diet dan olah raga teratur. Oleh karena itu para diabetisi seringkali membatasi konsumsi nasi, karena beras dicurigai sebagai pangan hiperglikemik, pada hal beras mempunyai kisaran indeks glikemik yang cukup luas. Beberapa varietas unggul padi rakitan Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi mempunyai indeks glikemik rendah, sedang hingga tinggi. Beras-beras tersebut mempunyai karakteristik tekstur nasi yang pulen dan pera yang sesuai dengan preferensi konsumen berdasarkan daerah (etnis) tertentu.

Beras IR 36, Logawa, Batang Lembang, Cisokan, Margasari, Air Tenggulang dan Inpara 4 cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes yang berasal dari daerah (etnis) Sumatera Barat, Kalimantan Selatan maupun daerah (etnis) lain yang menyukai nasi bertekstur pera. Sedangkan beras Ciherang, Situ Patenggang, Pandanwangi, Inpari 1, beras hitam lokal Subang, Hipa 7 dan Inpari 13 cocok dikonsumsi penderita diabetes yang berasal dari daerah (etnis) Jawa maupun daerah lain yang menyukai nasi bertekstur pulen. Strategi diseminasi dan promosi yang tepat untuk mencapai target yang diinginkan oleh konsumen yang mempunyai nilai fungsional pangan bermanfaat untuk mencegah terjadinya penyakit degenerative serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pangan fungsional adalah pangan yang secara alami atau melalui proses tertentu mengandung satu atau lebih senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis yang bermanfaat bagi kesehatan, Indeks Glikemik (IG) adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap glukosa darah. Pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan cepat memiliki IG tinggi. Sebaliknya pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan lambat memiliki tingkat IG rendah. Nilai indeks glikemik pangan didefisinikan sebagai nisbah antara luas area kurva glukosa darah setelah makan 50 g glukosa pada hari yang berbeda, pada orang yang sama. Berdasarkan definisi tersebut, glikosa (sebagai standar) memiliki nilai IG 100, nilai IG dengan dikelompokkan menjadi IG rendah (< 55), sedang (55 – 70) dan tinggi (>70). Beras-beras yang mempunyai  IG rendah untuk penderita diabetes  antara lain: IR 36, Ciherang, Logawa, Batang Lembang, Cisokan, Margasari, Martapura, Air Tenggulang, Situ Patenggang, Pandanwangi (lokal aromatic), Beras hitam lokal Subang, Hipa 7, Inpari 12, dan Inpari 13.

LAST_UPDATED2
 
Budidaya Kedelai Argomulyo di Lahan Hutan Kayu Putih PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 24 April 2014 06:32

Tumpangsari kedelai di sela tanaman kayu putih dan ketela pohon di kawasan hutan kayu putih Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menghasilkan kedelai hingga 2,0 ton/ha, pada musim tanam ke-2 (MH II) setelah tanaman jagung tahun 2013. Keragaan tanaman kedelai di lapang sangat bagus. Pertanaman kedelai di sela-sela tanaman kayu putih dan ketela pohon praktis tumbuh optimal, tanpa ada pengurangan cahaya karena tanaman kayu putih selalu mengalami pemotongan saat pemanenan.

Pengembangan kedelai di hutan kayu putih mempunyai banyak keuntungan, antara lain, lahan kayu putih dapat dipakai untuk pertanaman kedelai secara permanen sepanjang tahun karena tidak terkendala kanopi. Di samping itu, pengembangan kedelai di kawasan hutan kayu putih berpotensi untuk penyediaan benih di lahan sawah dengan sistem jalur benih antar lapang dan musim (jabalsim). Selain dapat menambah produksi tanpa harus membuka areal lahan baru, tumpangsari kedelai di lahan hutan memiliki nilai sinergi produktif karena (1) menambah kesuburan tanah hutan akibat pasokan N dari bintil akar kedelai, (2) meningkatkan produksi kedelai dan pendapatan untuk petani sekitar hutan, (3) mendiversifikasi produk, (4) menekan laju erosi, dan (5) menjadi penyedia pakan ternak.

Varietas unggul Argomulyo dipilih karena mempunyai potensi hasil tinggi 3,1 ton/ha, berumur relatif pendek, hanya 82 hari (umur sedang), merupakan kedelai biji besar yang disukai oleh sebagian besar petani, pedagang, dan konsumen kedelai di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Teknologi budidaya kedelai varietas Argomulyo di lahan hutan kayu putih Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul adalah sebagai berikut : Tanam tugal, tanpa olah tanah, pembuatan  saluran drainase dilakukan dengan jarak antar saluran 3-5 m dengan ukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Varietas Argomulyo berbiji besar dan berumur sedang. Penggunaan benih berkualitas, bernas memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat, bersih, dan berlabel, dengan total kebutuhan benih sekitar 40 kg/ha. Perlakuan benih dengan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih), tanpa perlakuan rhizobium mengingat lahan sudah sering ditanami kedelai. Jarak tanam 40 x 15 cm, 2- 3 biji/lubang. Pupuk organik digunakan sebanyak 2 ton/ha, 200 kg/ha pupuk NPK, serta pupuk daun untuk memacu pertumbuhan dan pembentukan bunga. Pengendalian gulma, hama, dan penyakit dilakukan secara terpadu. Panen dilakukan saat daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan.

LAST_UPDATED2
 
Kerupuk Jagung Plus PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Rabu, 23 April 2014 07:55

Pada umumya kerupuk jagung dibuat dari tepung jagung. Kerupuk jagung plus dibuat dengan bahan dasar beras jagung ukuran tertentu. Sentuhan teknologi pada bahan dasar kerupuk dan teknik pengolahan, mampu meningkatkan kualitas kerupuk jagung baik aspek tampilan maupun kandungan gizinya.

Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan kerupuk jagung plus adalah jagung pipil kering yang telah digiling menjadi beras jagung dengan ukuran tertentu, serta tapioka (pati singkong) untuk memberi efek mengembang pada hasil akhirnya dan bumbu berupa bawang putih dan garam. Rendemen kerupuk jagung plus sebesar 150%. Pembuatan kerupuk jagung plus mencakup tahapan pemberasan jagung, pembuatan nasi jagung, penambahan bumbu (tapioka, bawang putih, dan garam), pengukusan hingga matang, pencetakan dan penjemuran hingga kering. Kerupuk jagung yang telah kering siap untuk dikemas atau digoreng.

Keunggulan kerupuk jagung plus ini memiliki warna kuning yang lebih cerah dan menarik (tanpa tambahan bahan pewarna), tekstur dan rasa khas jagung lebih terasa. Kandungan gizi kerupuk jagung plus sebagai berikut : kadar air (0,1%), abu (2,75%), lemak (2,24%), serat (4,73%), protein (4,93%), karbohidrat (34,501%), dan betakaroten (345 mgr/100g).

Pembuatan kerupuk jagung plus telah diintroduksikan mulai tahun 2012 melalui kegiatan MP3MI di Kelompok Wanita Tani Sari Manunggal, Dusun Grogol III, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Kerupuk Jagung Plus ini telah dipasarkan dengan harga jual Rp 18.000,00 per kg mentah dan Rp 24.000,00 per kg matang. Pembutan kerupuk jagung plus telah memberikan tambahan pendapatan bagi anggota pengolah dengan omset mencapai Rp 500.000,00 per bulan.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com