Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Pengenalan Ayam KUB
e-Produk
KRPL
Tikus
Proquest
100 Teknologi

Galeri Foto

Berita
Temu Lapang PTT Padi di Kabupaten Kulonprogo PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dra. Tarfuah   
Selasa, 17 Juni 2014 08:00

Inovasi teknologi yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbukti telah mampu meningkatkan produktivitas pangan, salah satunya dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), cara ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil dan pendapatan petani yang optimal. BPTP Yogyakarta melaksanakan kegiatan pendampingan Sekolah Lapang Tanaman Terpadu (SL-PTT) dengan tujuan untuk mendiseminasikan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian diantaranya penggunaan varietas unggul baru hasil penelitian, untuk meningkatkan hasil gabah melalui pengenalan VUB yang kualitasnya lebih baik, rasanya lebih pulen, bersifat tahan terhadap hama penyakit tanaman dan berproduksi tinggi, ini diharapkan mampu meningkatkan produksi padi dalam mendukung P2BN (Program Peningkatan Beras Nasional) yaitu surplus beras sebanyak 10 juta ton pada akhir tahun 2014.

Pada tanggal 12 Juni 2014 BPTP Yogyakarta melaksanakan Temu Lapang PTT Padi di Dusun Semak, Desa Banjarsari, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Acara tersebut diikuti 70 peserta dari dinas terkait yaitu Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo, Kantor Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan kabupaten Kulon Progo, Danramil Kalibawang, Kapolsek Kalibawang, Tim Sniper dan unsur Muspika Kecamatan Kalibawang,  BP3K/BPP kalibawang, Ketua Gapoktan Kecamatan Kalibawang, Kelompok Tani Mitra Bakti Dusun Semak, Desa Banjarsari, Kecamatan Kalibawang binaan SLPTT, penyuluh dan peneliti BPTP Yogyakarta. Temu Lapang merupakan forum pertemuan antara peneliti, penyuluh, petani, dan penentu kebijakan dalam upaya untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan implementasi teknologi, tukar menukar informasi dan pengalaman, mendapatkan umpan balik, respon dan kemungkinan pengembangan inovasi teknologi secara luas.

Dalam sambutannya Dr. Bambang Sutaryo ahli peneliti tanaman padi BPTP Yogyakarta selaku koordinator kegiatan SLPTT-Padi Dusun Semak mengemukakan bahwa BPTP mempunyai tugas mengimplementasikan kebijakan pemerintah mendukung P2BN surplus beras 10 juta ton pada akhir tahun 2014. Upaya yang dilakukan yaitu: 1. Menyediakan teknologi spesifik lokasi, 2. Menyediakan benih unggul untuk display, 3. Menyediakan teknologi tepat guna, dan 4. Melaksanakan kegiatan temu lapang. Tujuan temu lapang sebagai penyebarluasan informasi PTT padi agar PTT padi dapat tersebar luas, dapat dipahami dan teradopsi oleh petani secara luas. Dengan harapan terjadi komunikasi secara langsung antara sumber inovasi teknologi dengan petani, stakeholders, dan sekaligus dapat diperoleh umpan balik dari pengguna sebagai bahan evaluasi kegiatan. Camat Kalibawang dalam sambutannya menyampaikan petani di wilayah Kecamatan Kalibawang khususnya Desa Banjarsari terkait inovasi yang telah direkomendasikan adanya display padi ini selanjutnya dapat dikembangkan dan mengungkapkan rasa senang sekaligus berharap BPTP Yogyakarta di masa-masa yang akan datang dapat melakukan demplot di wilayah Kecamatan Kalibawang lagi. Sedangkan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan wilayah Kulonprogo menyampaikan terimakasih atas kerjasama yang terjalin dengan baik dari semua pihak termasuk BPTP Yogyakarta, Koramil, Polsek, Tim Sniper, Muspika dan para petani sehingga display VUB padi berhasil dengan baik.

Pada kesempatan ini Kelompok tani Mitra Bakti yang beranggotakan 30 orang petani malaporkan kegiatan display padi varitas unggul baru bahwa kegiatan dilaksanakan mulai awal Maret hingga Juni 2014, luas lahan untuk pengembangan 25 hektar dengan hasil kegiatan sebagai berikut:  1. Varietas Unggul Baru (VUB) nasi pulen, umur 100 sd. 125 hari setelah semai; 2. Sistim tanam tajarwo  4 : 1; 3. Umur bibit 17 hari, jumlah rumpun setiap m2 sebanyak 30 rumpun naik 21% dibanding sistim tanam tegel; 4. Penggunaan pupuk: Phonska 300 kg/ha, Urea 200 kg/ha, organik 5000 kg/ha satu musim tanam; 5. Perawatan: penyiangan dan pengairan yang cukup; 6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) meliputi: pengendalian hama tikus terpadu, hama penggerek, hama wereng batang coklat; 7. Pengamatan pertumbuhan meliputi: jumlah anakan dan tinggi tanaman dengan perlakuan umur 25 hari setelah tanam, 45 hari setelah tanam, ketika panen, dengan pengulangan 3-5 kali setiap varietasnya; 8. Pengamatan produksi meliputi: jumlah malai produksi, jumlah gabah isi dan gabah hampa hasil ubinan dengan ulangan 3-5 kali dan diuji dilaboratorium; 9. Jumlah malai terbanyak  VUB Inpari 27 terendah Inpago 8; 10. Paling disukai urutannya Inpari 27 kemudian Inpari 29.; 11. Uji rasa organoleptik nasi diikuti oleh panelis 30 orang dari petugas Kecamatan Kalibawang, petugas Kelurahan/Desa Banjarsari, Gapoktan dan anggota kelompok tani beserta wanita tani ; 12. Rasa nasi paling disukai urutannya Inpari 23, Inpari 27 kemudian Ciherang.; 13. Hasil pengamatan sbb.;

VUB         Gabah Kering Panen Jumlah Gabah/Malai   Gabah Hampa Jumlah Rumpun/Malai

a. Inpago 8            5.529 Kg/Ha               285                              24                      9

b. Inpari 30            5.902 Kg/Ha               169                              23                    10,8

c. Inpari 10            6.510 Kg/Ha               147                              21                    10,8

d. Inpari 23            8.314 Kg/Ha               368                              21                    13,4

e. Inpari 27            8.004 Kg/Ha               186                              25                    15,8

f. Inpari 29             7.090 Kg/Ha               203                              32                    11,4

g. Ciherang            5.370 Kg/Ha               146                              16                    14,8

Rata-rata           6.724 Kg/Ha             215                             23                    12,29

14. Jumlah tikus tertangkap 365 ekor, ditembak oleh tim sniper sekitar 300 ekor; 15. Saran: VUB padi yang dikembangkan adalah Inpari 23 dan 27; 16. Rekomendasi:  pupuk organik lebih dari 2,5 ton/ha, pupuk kimia Phonska 260 kg/ha dan Urea 200 kg/ha, sistim tanam tajarwo 4:1, jarak tanam 20-25 cm.

Temu Lapang dari awal sampai berakhirnya acara berjalan dengan lancar dan menarik, pada sesi diskusi dapat direspon dengan baik terkait pelaksanaan kegiatan display PTT yang dilakukan dan para petani berharap pendampingan dan bimbingan BPTP tidak hanya sampai disini tapi terus berlanjut dikemudian hari. (Fhu 2014).

LAST_UPDATED2
 
Ayam KUB Berkembang di Sleman PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dwi Titaningsih   
Senin, 16 Juni 2014 07:32

Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Ayam KUB) adalah ayam kampung yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Merupakan ayam hasil seleksi genetik dari beberapa ayam lokal unggul asli Indonesia, sehingga memiliki banyak keunggulan diantaranya yaitu pertumbuhan lebih cepat (70 hari), tingkat produktivitas telur (130-160 butir/tahun) lebih dari ayam kampung biasa (50-60 butir/tahun),daya tahan terhadap penyakit lebih tinggi.

Ayam KUB berkembang pesat di Dusun Karongan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Hal ini sebagai dampak dari inovasi teknologi pengembangan ayam KUB di wilayah tersebut. BPTP Yogyakarta mulai merintis dan mengadakan pendampingan ayam KUB tahun 2013  bersama instansi terkait  dengan bantuan induk betina 300 ekor,  pejantan 70 ekor melalui kelompok tani Sawung Maju yang anggotanya 15 orang. Setiap anggota diberikan 15-25 ekor per orang.

Dalam perkembangannya, populasi induk betina 222 ekor, induk pejantan 77 ekor. Penetasan telur menggunakan mesin tetas berjumlah 14 buah dengan kapasitas 30-1000 butir. Produksi DOC sampai saat ini kurang lebih 3000 ekor,  dan terjual sebanyak 2.500 ekor dengan harga per ekor Rp 6500,-. Jangkauan  pemasaran meliputi wilayah DIY dan Kabupaten Karanganyar. Pemesanan DOC yang belum dapat dipenuhi diantaranya dari Bandung, Rembang, Sragen, Banyuwangi, Malang dan Blitar.

Pengembangan ayam KUB dilokasi tersebut masih menemui beberapa masalah antara lain ketrampilan penetasan, jumlah mesin tetas terbatas, peremajaan induk. Masalah lain meliputi  dinamika anggota perlu ditingkatkan, dan diversifikasi usaha serta pengelolaan limbah ternak ayam. Meningkatnya jumlah populasi ayam KUB, dan kebutuhan  mesin tetas, menjadi tantangan peternak di wilayah tersebut untuk meningkatkan produksi DOC. Sehingga kedepannya dapat dijadikan pusat peternakan ayam KUB di Sleman.

LAST_UPDATED2
 
Panen Display Varietas Unggul Baru Padi di Gunungkidul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dwi Titaningsih   
Rabu, 11 Juni 2014 15:46

Display (Temu lapang) Varietas Unggul Baru (VUB) padi, dilaksanakan di Kelompok Tani Sri Rejeki, Bedhil Kulon, Rejosari, Semin Gunungkidul, pada tanggal 11 Juni 2014, kegiatan ini merupakan salah satu metode diseminasi inovasi teknologi pertanian khususnya komoditas padi. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama antara Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta sebagai pendamping teknologi, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gunungkidul sebagai leading sektor, dan BP3K Kabupaten Gunungkidul sebagai pelaksana lapangan.

Pada acara display tersebut dilakukan panen raya varietas unggul baru (VUB)  Inpari di lokasi display oleh Kepala BPTP Yogyakarta yang diwakili oleh peneliti Dr. Bambang Sutaryo,  Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gunungkidul , Kepala BP2KP Kabupaten Gunungkidul, Camat dan Koramil Semin.  Kegiatan ini dihadiri 100 undangan terdiri atas petani, petugas penyuluh, peneliti dan Pemerintah Kecamatan Semin.

Dalam sambutannya   Dr. Ir.Bambang Sutaryo menyampaikan bahwa BPTP Yogyakarta sebagai UPT Badan Litbang Pertanian yang melaksanakan display VUB padi dimaksudkan untuk menginformasikan penerapan inovasi teknologi VUB padi melalui pendekatan PTT, menginformasikan komponen wajib dan pilihan PTT serta mempercepat proses adopsi inovasi teknologi penggunaan VUB padi kepada masyarakat petani,

Mantosukarno sebagai ketua Kelompok Tani Sri Rejeki  memberikan laporan dan penjelasan pelaksanaan display VUB padi yang dilaksanakan oleh BPTP Yogyakarta. Inovasi teknologi yang diterapkan pada areal display VUB padi seluas 1hektar untuk kegiatan display dan 25 hektar untuk pengembangan antara lain penanaman varietas unggul baru padi Gilirang, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 27, Inpari 11, Inpari 25 Opak Jaya, Inpago 7, Inpari 19, Inpari 10, dan IR-64 (eksisting), sistem tanam tajarwo 4:1, umur bibit 17 hari dengan jumlah rumpun sekitar 30 rumpun/ meter persegi. Pemupukan menggunakan phonska 300 kg/ha, Urea 200 kg/ha dan pupuk organik 5000 kg/ha/musim tanam. Umur terpendek Inpari 19 (95 hari) umur terpanjang Inpari 27 (115 hari) sedangkan rasa nasi yang paling disukai penelis Inpari 30, beras yang paling menarik penampilannya adalah Inpari 27. Hasil ubinan menunjukkan hasil gabah kering panen (GKP t/ha) inpari 19 = 8,93, Inpari 10 = 7,76 dan IR-64= 7,42 sedangkan untuk gabah kering giling (GKG t/ha) Inpari 19 = 5,36, Inpari 10= 4,66 dan IR-64 4,50. Hasil ini menunjukkan bahwa provitas VUO Inpari lebih tingggi 0,76 t/ha (  14,18%) di banding varietas eksisting (IR 64)

LAST_UPDATED2
 
Kelompoktani Sleman Bahas Reproduksi Ternak Sapi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ir. Ari Widyastuti   
Jumat, 06 Juni 2014 07:02

Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas sapi mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDSK) Pemerintah Kabupaten Sleman memfokuskan pembinaan kepada kelompok tani ternak sebagai wadah kelembagaan para peternak.

Permasalahan yang dijumpai peternak di Kabupaten Sleman diantaranya adalah rendahnya  reproduktivitas ternak. Rendahnya tingkat reproduktivitas mempengaruhi produksi dan produktivitas ternak sapi. Hal tersebut disampaikan drh. Nanang Danardono mewakili Kepala Bidang Peternakan Dipertahut Sleman pada kegiatan  Forum Komunikasi Tiga Bulanan Kelompoktani ternak. Hal serupa dikeluhkan oleh anggota kelompoktani ternak bahwa induk sapinya tidak segera bunting setelah beberapa kali dikawinkan menggunakan metode Kawin Suntik (Inseminasi Buatan).

Ir. Erna Winarti, peneliti bidang peternakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta sebagai narasumber pertemuan tersebut menyampaikan bahwa rendahnya tingkat reproduktivitas ternak sapi  disebabkan oleh beberapa  faktor, antara lain  pakan yang tidak memenuhi standar kualitas dan kuantitas, serta belum tepatnya peternak melaporkan kejadian birahi ternak, atau bisa disebabkan oleh adanya penyakit atau kelainan reproduksi pada ternak sapi. Lebih lanjut disampaikan bahwa peternak dapat menggunakan dua patokan yang dapat dijadikan indikator keberhasilan reproduksi sapi potong yaitu angka perkawinan hingga jadi (servis per conception = S/C) dan jarak beranak induk sapi. Angka perkawinan hingga jadi (S/C) ternak sapi adalah kurang dari 1,5, artinya bila peternak mempunyai 2 ekor induk sapi satu induk dikawinkan langsung positif bunting dan satu induk dikawinkan 2 kali baru positif bunting. Patokan lain yaitu jarak beranak induk sapi kurang dari 14 bulan, artinya 4 – 5 bulan setelah melahirkan induk sapi sudah harus bunting kembali.

Forum Komunikasi dilaksanakan di Kelompoktani ternak Sumber Rejeki, Dusun Jalakan, Desa Tambak Rejo, Kabupaten Sleman, diprakarsai oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman dimaksudkan untuk memberikan pembinaan sekaligus  ajang komunikasi dan silaturahmi antar kelompoktani ternak se-Kabupaten Sleman. Forum dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Camat Tempel, Perangkat Desa Tambak Rejo, dan Kelompoktani Ternak se-Kabupaten Sleman sebanyak 200 kelompok sebagai peserta. Populasi ternak sapi di kabupaten Sleman pada tahun 2013 tercatat mencapai  51.642 ekor. (aw-yk)

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com