Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
Proquest
Pengenalan Ayam KUB
100 Teknologi
KRPL
Tikus

Galeri Foto

Berita
Mengenal Hama Ulat Penggulung Daun Kedelai PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Rabu, 25 Februari 2015 08:03

Selain hama penggerek polong, ulat grayak dan kutu kebul, ulat penggulung daun kedelai Lamprosema indicata Fabricius (Lepidoptera; Pyralidae) juga dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah pada tanaman kedelai. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80% bahkan bisa terjadi kegagalan panen (puso) apabila tidak ada tindakan pengendalian.

Gejala serangan hama ulat penggulung daun kedelai adalah adanya daun-daun yang tergulung menjadi satu dan apabila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang berwarna coklat hitam. Ulat ini membentuk gulungan daun dengan merekatkan daun yang satu dengan yang lainnya dari sisi bagian dalam dengan zat perekat yang dihasilkannya. Di dalam gulungan daun, ulat memakan daun hingga tinggal tulang daunnya.

Pengendalian hama ulat penggulung daun pada tanaman kedelai telah dilakukan melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu penerapan semua teknik atau komponen pengendalian secara kompatibel yang didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi.

Dalam mengendalikan hama ulat penggulung daun kedelai ini, terdapat beberapa komponen yakni tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari, lalu pergiliran atau rotasi tanaman dengan beberapa varietas yang mempunyai tingkat ketahanan berbeda atau jenis tanaman lain yang bukan inang. Pemutusan ketersediaan inang pada musim berikutnya, populasi hama yang sudah meningkat pada musim sebelumnya akan dapat ditekan.

Komponen berikutnya, penggunaan cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii yang mampu menginfeksi telur dan nimfa dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi hingga mencapai 50%. Terakhir, penggunaan insektisida dengan bahan aktif klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, sihalotrin dan sipermetrin apabila kepadatan populasi telah mencapai ambang kendali.

Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

LAST_UPDATED2
 
Cara Efektif Kendalikan Penyakit Karat Pada Krisan PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 10 Februari 2015 09:22

Bunga krisan yang tampak indah dan  menawan,  sangat rentan terdapat penyakit karat (rust) yang disebabkan oleh jamur Puccinia horiana. Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPPT)DIY, Tri Martini Sp,M.Si menemukan  jurus efektif untuk mengendalikannya.

Jamur Puccinia horiana ini   merupakan penyakit   utama  pada  krisan. Meskipun tidak mematikan tanaman, namun infeksi jamur  akan mengurangi kesehatan dan kekuatan tanaman sehingga berpengaruh pada produksi dan kualitas bunga, serta mengurangi nilai estetika krisankarenaadanya pustul (karat). Bagian tanaman krisan yang banyak diserang jamur  adalah bagian daun di  sepertiga bagian bawah dekat permukaan tanah. Oleh sebab itu, pengendalian penyakit secara preventif bisa dilakukan dengan menekan sumber penularan penyakit atau inokulum awal, yaitu menghilangkan daun mulai dari bagian bawahdekat permukaan tanah.

"Lanqkah ini terbukti mampu menekan intensitas penyakit  karat  hingga  80,05 persen  pada pertanaman   berumur   30-60  hari," kata  Martini saat mempertahankan   disertasi  berjudul "Kajian Pengendalian  Penyakit Karat Pada Tanaman  Krisan Berdasarkan Prinsip Epidemi" dalam ujian terbuka  program  doktor,  di  Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, baru-baru ini.

Penyakit karat pada bunga krisan telah menimbulkan kerugian  dalam budidaya  krisan. Kerugian tersebut tidak  hanya dirasakan oleh petani  di Indonesia, tetapi juga  petani  bunga lainnya di berbagai negara.

Menyitir  hasil penelitian  Ellis, 2007, Martini menyebutkan  di Turki produksi bunga  krisan mengalami penurunan  signifikan  hingga 80 persen  akibat  penyakit   karat.  Bahkan  kondisi yang lebih  parah terjadi  di Inggris  yang mengalami gagal produksi sampai 100 persen.

"Penyakit  karat  ini  memiliki   potensi  yang sangat besar dalam mempengaruhi   produksi krisan karena gejala awal yang sulit terdeteksl,' kata Martini  seperti dikutip  dalam website resmi UGM.

Tidak hanya itu, lanjut Martini,  perbanyakan tanaman  atau bahan propagasi  yang sakit acap kali belum  menampakkan  gejala dan bisa terbawa hingga jarak yang cukup  jauh. Padahal, bahan propagasi yang sakit merupakan  inokulum awal yang potensial.

Kualitas Bunga Turun

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) gang guan penyakit  karat menyebabkan  kualitas bunga menurun karena ukuran menjadi  kecil. Dari hasil penelitian  yang dilakukan  Martini di sejumlah sentra produksi krisan di Kabupaten  Sleman dan Kulon Progo, Provinsi DIY,  diketahui  bahwa intensitas  penyakit   karat di  Samigaluh,  Kulon Progo relatif  lebih  tinggi  dibanding   dengan  di Pakem,  Sleman  karena memiliki   kelembaban udara  yang  lebih  tinggi   dan  suhu  yang  lebih rendah.

Suhu  udara  di  Samigaluh  sebesar  22,53-25,03  derajat  Celcius  dan  kelembaban   udara sebesar 91,666  persen.  Sedangkan  di  Pakem besaran suhu udara sebesar 26,40-27,64 derajat Celcius dan kelembaban  udara 74,20-75,86 per sen. "lntensitas  penyakit  karat lebih tinggi  pad a kelembaban yang tinggi   di Samigaluh  sebesar 45,50-53,55 persen dibandingkan  intensitas penyaklt   karat  di  Pakem sebedar  17,45-17,82 persen," Jelas Martini.

Martini     menyampaikan      bahwa     lokasi pengembangan   krisan  di DIY memiliki   kondisi cuaca yang sesuai dengan  perkembangan  spora penyakit karat. Hal tersebut menjadikan patogen akan terus bertahan  dan berkembang  sehingga wilayah terse but termasuk  dalam endemik.

Adanya   inang   yang   potensial,   pathogen yang  infektif  disertai  lingkungan   yang mendukung berpengaruh terhadap keberadaan dan memperparah   penyakit.  Karenanya, saran Mar tini, perlu dilakukan  monitoring   secara rutin terhadap  keberadaan spora penyakit  karat di lapangan. Spora jamur dipencarkan  oleh angin setiap saat dan bisa ditangkap dengan perangkap spora tipe Kiyosawa di ketinggian 0,5-1,5 meter dari permukaan tanah.

Sumber: Majalah Sains Indonesia

LAST_UPDATED2
 
Seminar Penajaman Proposal Pengkajian dan Diseminasi 2015 PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Rabu, 28 Januari 2015 14:55

Guna mempertajam proposal kegiatan pengkajian dan diseminasi tahun 2015 dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan DIPA 2015, telah dilaksanakan Seminar Penajaman Proposal Kegiatan Pengkajian dan Diseminasi Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta pada tanggal 22-23 Januari 2015. Acara ini selain sebagai ajang penyampaian informasi awal rencana pelaksanaan kegiatan tahun 2015 sekaligus juga memperoleh masukan dan saran bagi penyempurnaan proposal serta instrument monitoring dan evaluasi. Dalam seminar tersebut, dipresentasikan 6 (enam) Rencana Penelitian tingkat Peneliti (RPTP) terbagi dalam 17 (tujuh belas) Rencana Operasional Pelaksanaan Pengkajian (ROPP) dan 8 (delapan) Rencana Disieminasi Hasil Pengkajian, terbagi 22 (dua puluh dua) Rencana Operasional Disemininasi Hasil Pengkajian (RODHP) yang masing-masing dipresentasikan oleh penanggung jawab kegiatan. Seminar ini dihadiri oleh para peneliti, penyuluh dan tenaga fungsional lainnya di BPTP Yogyakarta.

Kepala BPTP Yogyakarta, Dr. Sudarmaji pada sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) melakukan reorientasi kebijakan penelitian/pengkajian dan pengembangan pertanian ke depan (improvement of quality), sehingga dapat lebih berkontributif dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui pertanian bioindustri berkelanjutan untuk mendukung swasembada pangan, khususnya swasembada padi, jagung dan kelede (PJK).  Oleh karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai UPT Badan Litbang Pertanian di daerah memfokuskan pada peningkatan produksi dan produktivitas untuk mendukung pencapaian target swasembada PJK.

Lebih lanjut Dr. Sudarmaji mengemukakan bahwa langkah-langkah yang ditempuh untuk merealisasi  swasembada pangan yaitu melakukan pendampingan dan pengawalan pada program UPSUS-PJK, dimana BPTP Yogyakarta bertanggungjawab  utnuk peningkatan provitas di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, tetapi tetap mendukung wilayah lainnya di lingkup DIY. Target peningkatan produktivitas padi 0,3 ton GKP/ha,  jagung meningkat produksinya sebesar 5 ton/ha pada areal tanam baru dan peningkatan produktivitas sebesar 1 ton/ha pada areal eksisting dan kedelai meningkat produksinya sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan peningkatan produktivitas sebesar 0,2 ton/ha pada areal eksisting.

Berdasarkan hasil evaluasi, dari sebanyak 17 proposal kegiatan pengkajian tahun 2015 yang dibahas terdapat  3 proposal memperolah hasil evaluasi kurang sehingga diperlukan perbaikan berat, 4 proposal memperoleh hasil cukup sehingga diperlukan perbaikan sedang dan 10 proposal memperoleh hasil baik sehingga diperlukan perbaikan ringan. Dari sebanyak 22 proposal kegiatan Diseminasi yang dibahas, tidak terdapat proposal memperolah hasil evaluasi kurang sehingga tidak diperlukan perbaikan berat, 4 proposal memperoleh hasil cukup sehingga diperlukan perbaikan sedang dan 18 proposal memperoleh hasil baik sehingga diperlukan perbaikan ringan. Hasil evaluasi proposal telah disampaikan untuk ditindaklanjuti oleh masing-masing penanggung jawab kegiatan dalam rangka penyempurnaan proposal.

Dengan penyelenggaraan seminar penajaman proposal kegiatan 2015, diharapkan pelaksanaan kegiatan dapat tepat waktu, tepat sasaran dan memberi hasil yang terbaik untuk mendukung pembangunan pertanian di wilayah D.I.Yogyakarta

LAST_UPDATED2
 
Dukung Swasembada, Dua Kabupaten di Yogyakarta Canangkan Perbaikan Irigasi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 26 Januari 2015 10:50

YOGYAKARTA – Dua kabupaten di propinsi DI Yogyakarta yakni Kabupaten Bantul dan Gunungkidul pada Selasa (20/1/2015) secara serentak melakukan pencanangan gerakan Perbaikan Irigasi di dua lokasi berbeda. Pencanangan gerakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Menteri Pertanian agar setiap daerah di Indonesia melaksanakan Pencanangan Gerakan Perbaikan Irigasi melalui acara peletakan batu pertama guna mendukung swasembada padi, jagung dan kedelai.

Bupati Bantul, Sri Surya Widati melakukan peletakan batu pertama di Argodadi, Sedayu, Bantul. Dalam sambutannya, Bupati Bantul mengatakan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang penting. Widati juga menambahkan jika pada saat ini penyediaan pangan sedang menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim global, kerusakan jaringan irigasi dan penyempitan lahan sebagai akibat alih fungsi lahan pertanian. “Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan sarana dan prasarana sumber daya air," ujarnya.

Kegiatan perbaikan irigasi di wilayah Kabupaten Bantul akan meliputi areal seluas 1500 ha. Selain melaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi, untuk mendukung pencapaian swasembada pangan di Kabupaten Bantul juga akan dilakukan optimasi lahan, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) jagung dan kedelai, bantuan alat dan mesin pertanian dan program bantuan subsidi benih padi, jagung dan kedelai.

Di tempat berbeda, Bupati Gunungkidul Badingah juga melaksanakan kegiatan serupa di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Pada acara yang dihadiri para pejabat Kabupaten Gunungkidul dan para perangkat desa serta BPTP DI Yogyakarta ini Bupati menyampaikan sektor pertanian mempunyai peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap sekitar 30% PDRB Gunungkidul. “Bahkan pada tahun 2014 Gunungkidul telah berhasil mencapai surplus beras 20 ribu ton,” ujarnya.

Meski telah berhasil mencapai surplus, upaya meningkatkan produksi dan swasembada pangan masih terus dilakukan salah satunya dengan pembangunan infrastruktur jaringan irigasi. “Selanjutnya masyarakat diharapkan secara swadaya dapat memelihara jaringan irigasi yang dibangun agar tetap berfungsi secara baik,” pungkasnya.

Selain di dua kabupaten tersebut, gerakan ini juga secara serentak dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia untuk mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com