Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
100 Teknologi
Proquest
KRPL
Pengenalan Ayam KUB
Tikus

Galeri Foto

Berita
Seminar Penajaman Proposal Pengkajian dan Diseminasi 2015 PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Rabu, 28 Januari 2015 14:55

Guna mempertajam proposal kegiatan pengkajian dan diseminasi tahun 2015 dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan DIPA 2015, telah dilaksanakan Seminar Penajaman Proposal Kegiatan Pengkajian dan Diseminasi Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta pada tanggal 22-23 Januari 2015. Acara ini selain sebagai ajang penyampaian informasi awal rencana pelaksanaan kegiatan tahun 2015 sekaligus juga memperoleh masukan dan saran bagi penyempurnaan proposal serta instrument monitoring dan evaluasi. Dalam seminar tersebut, dipresentasikan 6 (enam) Rencana Penelitian tingkat Peneliti (RPTP) terbagi dalam 17 (tujuh belas) Rencana Operasional Pelaksanaan Pengkajian (ROPP) dan 8 (delapan) Rencana Disieminasi Hasil Pengkajian, terbagi 22 (dua puluh dua) Rencana Operasional Disemininasi Hasil Pengkajian (RODHP) yang masing-masing dipresentasikan oleh penanggung jawab kegiatan. Seminar ini dihadiri oleh para peneliti, penyuluh dan tenaga fungsional lainnya di BPTP Yogyakarta.

Kepala BPTP Yogyakarta, Dr. Sudarmaji pada sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) melakukan reorientasi kebijakan penelitian/pengkajian dan pengembangan pertanian ke depan (improvement of quality), sehingga dapat lebih berkontributif dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui pertanian bioindustri berkelanjutan untuk mendukung swasembada pangan, khususnya swasembada padi, jagung dan kelede (PJK).  Oleh karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai UPT Badan Litbang Pertanian di daerah memfokuskan pada peningkatan produksi dan produktivitas untuk mendukung pencapaian target swasembada PJK.

Lebih lanjut Dr. Sudarmaji mengemukakan bahwa langkah-langkah yang ditempuh untuk merealisasi  swasembada pangan yaitu melakukan pendampingan dan pengawalan pada program UPSUS-PJK, dimana BPTP Yogyakarta bertanggungjawab  utnuk peningkatan provitas di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, tetapi tetap mendukung wilayah lainnya di lingkup DIY. Target peningkatan produktivitas padi 0,3 ton GKP/ha,  jagung meningkat produksinya sebesar 5 ton/ha pada areal tanam baru dan peningkatan produktivitas sebesar 1 ton/ha pada areal eksisting dan kedelai meningkat produksinya sebesar 1,57 ton/ha pada areal tanam baru dan peningkatan produktivitas sebesar 0,2 ton/ha pada areal eksisting.

Berdasarkan hasil evaluasi, dari sebanyak 17 proposal kegiatan pengkajian tahun 2015 yang dibahas terdapat  3 proposal memperolah hasil evaluasi kurang sehingga diperlukan perbaikan berat, 4 proposal memperoleh hasil cukup sehingga diperlukan perbaikan sedang dan 10 proposal memperoleh hasil baik sehingga diperlukan perbaikan ringan. Dari sebanyak 22 proposal kegiatan Diseminasi yang dibahas, tidak terdapat proposal memperolah hasil evaluasi kurang sehingga tidak diperlukan perbaikan berat, 4 proposal memperoleh hasil cukup sehingga diperlukan perbaikan sedang dan 18 proposal memperoleh hasil baik sehingga diperlukan perbaikan ringan. Hasil evaluasi proposal telah disampaikan untuk ditindaklanjuti oleh masing-masing penanggung jawab kegiatan dalam rangka penyempurnaan proposal.

Dengan penyelenggaraan seminar penajaman proposal kegiatan 2015, diharapkan pelaksanaan kegiatan dapat tepat waktu, tepat sasaran dan memberi hasil yang terbaik untuk mendukung pembangunan pertanian di wilayah D.I.Yogyakarta

LAST_UPDATED2
 
Dukung Swasembada, Dua Kabupaten di Yogyakarta Canangkan Perbaikan Irigasi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 26 Januari 2015 10:50

YOGYAKARTA – Dua kabupaten di propinsi DI Yogyakarta yakni Kabupaten Bantul dan Gunungkidul pada Selasa (20/1/2015) secara serentak melakukan pencanangan gerakan Perbaikan Irigasi di dua lokasi berbeda. Pencanangan gerakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Menteri Pertanian agar setiap daerah di Indonesia melaksanakan Pencanangan Gerakan Perbaikan Irigasi melalui acara peletakan batu pertama guna mendukung swasembada padi, jagung dan kedelai.

Bupati Bantul, Sri Surya Widati melakukan peletakan batu pertama di Argodadi, Sedayu, Bantul. Dalam sambutannya, Bupati Bantul mengatakan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang penting. Widati juga menambahkan jika pada saat ini penyediaan pangan sedang menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim global, kerusakan jaringan irigasi dan penyempitan lahan sebagai akibat alih fungsi lahan pertanian. “Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan sarana dan prasarana sumber daya air," ujarnya.

Kegiatan perbaikan irigasi di wilayah Kabupaten Bantul akan meliputi areal seluas 1500 ha. Selain melaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi, untuk mendukung pencapaian swasembada pangan di Kabupaten Bantul juga akan dilakukan optimasi lahan, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) jagung dan kedelai, bantuan alat dan mesin pertanian dan program bantuan subsidi benih padi, jagung dan kedelai.

Di tempat berbeda, Bupati Gunungkidul Badingah juga melaksanakan kegiatan serupa di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Pada acara yang dihadiri para pejabat Kabupaten Gunungkidul dan para perangkat desa serta BPTP DI Yogyakarta ini Bupati menyampaikan sektor pertanian mempunyai peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap sekitar 30% PDRB Gunungkidul. “Bahkan pada tahun 2014 Gunungkidul telah berhasil mencapai surplus beras 20 ribu ton,” ujarnya.

Meski telah berhasil mencapai surplus, upaya meningkatkan produksi dan swasembada pangan masih terus dilakukan salah satunya dengan pembangunan infrastruktur jaringan irigasi. “Selanjutnya masyarakat diharapkan secara swadaya dapat memelihara jaringan irigasi yang dibangun agar tetap berfungsi secara baik,” pungkasnya.

Selain di dua kabupaten tersebut, gerakan ini juga secara serentak dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia untuk mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan.

LAST_UPDATED2
 
Peningkatan Produksi Padi melalui Program GP-PTT PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Putri-Galuh   
Jumat, 16 Januari 2015 08:12

Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu atau GP-PTT merupakan lanjutan dari SL-PTT ( Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) yang telah dilakukan pada tahun 2008-2014. GP-PTT memfokuskan pada pengembangan budidaya berdasarkan lokasi atau kawasan. Jika pada SL-PTT pemerintah hanya memberikan fasilitasi bantuan biaya tambahan di luar saprodi saja, sedangkan pada GP-PTT pemerintah memberikan bantuan saprodi lengkap dan biaya untuk kegiatan pertanian lainnya.

Fokus GP-PTT adalah pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan khusus padi, jagung, dan kedelai. Kriteria khusus kawasan tanaman pangan dalam aspek luas agregat kawasan yaitu : 1) Kawasan Padi 5000 ha /(2-4 kecamatan); 2) Kawasan Jagung 3000 ha /(2-4 kecamatan); dan 3) Kawasan Kedelai 3000 ha /(2-4 kecamatan). Dalam kawasan tersebut diharapkan terjadi peningkatan produksi pertanian. Syarat suatu kawasan mendapatkan GP-PTT adalah adanya potensi kawasan tersebut untuk ditingkatkan provitasnya > 1 ton yang nantinya akan dievaluasi  tiap  tahun  sebelum dan sesudah GP-PTT. Syarat lain adalah  adanya  usulan  E-Proposal dari daerah, daerah berproduktivitas rendah, serta komitmen daerah tersebut.

Workshop kerjasama antara dua institusi dengan tema CORIGAP (Closing Rice Yield Gaps) bertujuan untuk mengatasi senjang hasil tanaman padi di Asia. CORIGAP juga bertujuan untuk meningkatkan produksi padi sawah berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan. Terdapat 2 fase project jangka panjang dalam CORIGAP, fase pertama berlangsung pada tahun 2013-2016 dan fase kedua berlangsung pada 2017-2020.Workshop dihadiri oleh beberapa institusi lain, diantaranya Ditjen Budidaya  Serealia, Dinas Pertanian DIY dan Jateng, perwakilan penyuluh DIY dan Jateng, Kepala BPTP DIY dan Jateng, Puslitbang Tanaman Pangan Bogor, BKPP DIY, dan Dinas Pertanian Klaten.

Kepala BPTP Yogyakarta, Dr. Sudarmaji dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan workshop membahas koordinasi dan sinkronisasi program GP-PTT dengan CORIGAP dengan harapan kegiatan ini mendapatkan output yang optimal. CORIGAP telah dilakukan  di DIY dan Sumatera Selatan. Maka, BPTP Yogyakarta selaku badan yang ikut bekerjasama akan mendukung upaya peningkatan produksi bersama IRRI.

Alexander Stuart selaku tim IRRI dan Arlyna Budi Pustika dari pihak BPTP, dalam presentasinya memaparkan hasil kerjasama CORIGAP dengan BPTP dilakukan diskusi dengan 4 kelompok tani yang masing-masing jumlah anggota 60 petani. Hasil diskusi diperoleh  beberapa masalah seperti rendahnya harga beras, penyakit kresek dan Bacterial Leaf Blight (BLB) di musim hujan, kurangnya ketersediaan air di musim kemarau, keterbatasan tenaga kerja dan traktor dan kehilangan panen (misal : penjemuran di pinggir jalan). Kelima masalah tersebut, dibahas untuk mendapatkan solusi, CORIGAP tidak memberikan sesuatu yang baru yang harus diterapkan tetapi lebih menekankan pada pengembangan potensi kawasan tersebut.

LAST_UPDATED2
 
Pembibitan Padi Sistem Modern dan Hemat Lahan PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 05 Januari 2015 14:29

Beras sebagai bahan pangan pokok sebagian besar penduduk Indonesia merupakan unsur penting dalam sistem ketahanan pangan nasional. Untuk hal tersebut usahatani padi masih merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia teruatama di pedesaan.

Salah satu tahap dalam kegiatan budidaya padi sawah adalah  penanaman bibit. Kegiatan ini memerlukan sekitar 25% dari seluruh kebutuhan tenaga kerja budidaya. Ditambahkan pula bahwa berdasarkan jadwal air ataupun musim tanam tidak dikehendaki selang waktu yang terlalu lama antara lahan yang satu dengan yang lain. Dengan kondisi demikian pengerahan tenaga tanam sangat diperlukan. Dalam hal terjadinya keterbatasan tenaga kerja, peranan alsintan dalam hal penyediaan maupun penanaman bibit sangat diperlukan.

Melihat permasalahan tersebut maka perlu adanya suatu usaha peningkatan intensifikasi pertanian dengan dukungan mekanisasi. Penanaman sebagai salah satu tahap budidaya yang banyak menyerap tenaga kerja berpeluang untuk dialihkan kearah mekanisasi. Sebagai bagian dari kegiatan tanam maka kegiatan penyediaan bibit atau persemaian juga harus dilaksanakan secara intensif.

Bertitik tolak dari kondisi di lapang dan permasalahan yang harus diatasi maka dirancang unit pembibitan padi hemat lahan. Unit pembibitan padi ini bekerja secara terintegrasi mulai dari penyediaan tanah, pupuk, benih, penaburan benih dan pemeliharaan persemaian sampai siap untuk ditanam. Unit tersebut terdiri atas mesin penggiling tanah, penyalur tanah, penakar benih dan pemeliharaan persemaian sampai siap dipindahkan ke lahan tanam.

Keunggulan sistem pembibitan ini dibanding dengan cara pembibitan konvensional adalah persemaian dapat dipelihara di lahan kering di luar areal tanam/sawah dengan penyiraman (hemat lahan/air), mengurangi resiko kegagalan karena banjir di lahan sawah, mengurangi resiko serangan hama dan penyakit, pengendalian pertumbuhan lebih mudah. Pertumbuhan bibit lebih cepat dan Dapat mengikuti jadwal air/percepatan musim tanam.

Perhitungan biaya operasional unit ini menghasilkan harga bibit yang sebanding dengan harga bibit yang ditanam secara konvensional (harga bibit siap tanam termasuk pencabutan dan pengangkutan ± Rp. 350.000/ha areal tanam).

Secara ekonomis unit pemibibitan padi hemat lahan ini membuka peluang bisnis baru dibidang penyediaan bibit bagi petani. Dengan melakukan bisnis perbibitan padi, akan diperoleh manfaat lain yaitu penghematan waktu dan lahan untuk penyiapan tanam padi yang berurutan.

Informasi lebih lanjut : Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com