Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
KRPL
UPBS BP2TP
banner2
Tikus
Pengenalan Ayam KUB

Galeri Foto

Berita
Aplikasi Mikorhiza untuk Peningkatan Produktivitas Hortikultura dan Tanaman Jagung di Lahan Pasir PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 21 November 2014 07:47

Kandungan bahan organik dan kadar P tersedia di lahan berpasir lereng Gunung Merapi umumnya berstatus sangat rendah. Namun sebaliknya, kandungan unsur P-potensial sangat tinggi. Dengan kondisi tersebut, perlu diaplikasikan pupuk hayati yang mampu menguraikan unsur P yang terikat kuat dalam kompleks jerapan liat-silikat. Jamur mikorhiza berperan dalam meningkatkan pengambilan unsur P tanah dengan cara memperluas daerah serapan pada sistem perakaran tanaman dan mengeluarkan enzim tertentu. Dengan demikian, dapat digunakan untuk menguraikan unsur P potensial yang menumpuk di dalam tanah berpasir.

Cara aplikasi pupuk hayati mikorhiza pada tanaman palawija dan hortikultura adalah sebagai berikut: (a) Bahan pupuk hayati diberikan sebanyak 8 sendok makan/ kg benih tanaman (diberikan sebelum tanam). Cara aplikasinya adalah benih yang hendak ditanam diberi sedikit air sampai lembab (tidak terlalu basah), kemudian pupuk hayati mikorhiza ditaburkan secara merata, dan (b) Aplikasi mikorhiza susulan (diberikan 2 minggu setelah tanam) sebanyak 2 gr/tanaman dengan dicampur pupuk kandang secukupnya, selanjutnya dibenamkan di sekitar perakaran.

Hasil pengkajian di lahan berpasir lereng Gunung Merapi tahun 2009 menunjukkan bahwa pemberian mikorhiza pada tanaman jagung dan beberapa tanaman hortikultura (sawi, cabai, semangka, tomat) dapat menyerap pupuk fosfat lebih tinggi hingga 27 % dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikorhiza, dapat menghemat penggunaan pupuk nitrogen hingga 41%, pupuk fosfat sebesar 27 %, dan pupuk kalium 22 %.

LAST_UPDATED2
 
Edible Film untuk Kemasan Primer Dodol Salak PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 20 November 2014 10:20

Sebanyak 30% dari total limbah padat pemukiman adalah bahan pengemas dan 13% dari jumlah ini merupakan bahan kemasan dari plastik. Limbah plastik mencapai 4% dari total limbah padat pemukiman. Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk beban cemaran lingkungan juga semakin meningkat.

Oleh karena itu penelitian dan pengembangan dalam bidang ilmu bahan (material science) untuk memperoleh suatu jenis bahan pengemas yang bersifat biodegradable atau yang bersifat edible menjadi penting saat ini guna meminimalisir pencemaran lingkungan karena limbah kemasan plastik.

Kemasan biodegradable seperti edible filmcoating telah dikembangkan di berbagai negara maju menggunakan biopolimer dari hasil pertanian.

Penggunaan biodegradable/edible film bertujuan untuk menghambat migrasi uap air, gas, aroma dan lemak.Edible film dapat diproduksi menggunakan campuran pati ubi kayu, plasticizer gliserol, sorbitol, dan lilin lebah.  Edible film produksi BPTP Yogyakarta dalam proses Paten.

LAST_UPDATED2
 
Budidaya Kedelai di Lahan Pasir PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 17 November 2014 08:48

Teknologi budidaya kedelai di lahan pasir yang diaplikasikan di Desa Pleret, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo dengan menggunakan varietas Kaba, Anjasmoro, Wilis atau Detam. Kebutuhan pupuk per hektar adalah 15 ton pupuk organik, 300 kg phonska, 2 ton kapur, dan 50 kg ammonium sulfat (ZA).

Persiapan lahan cukup dengan membersihkan gulma tanpa olah tanah, dibentuk guludan cekungan. Bentuk guludan cekungan mempunyai kelebihan penampungan pupuk dan air tidak meluber ke luar, karena sifat tanah pasir yang sangat lepas. Jarak tanam 20 x 20 cm atau 30 x 10 cm) dengan jumlah populasi 250.000 sampai 300.000 rumpun per hektar. Penyiraman diluar musim hujan dilakukan setiap hari. Jarak antar guludan adalah 50 cm untuk jalan penyiraman.

Produksi yang dihasilkan varietas Anjasmoro adalah 3.343 kg/ha, varietas Malika menghasilkan 2.411 kg/ha, dan Kaba 1.246 kg/ha. Indek panen tertinggi adalah varietas Anjasmoro (0,54), diikuti varietas Malika berada (0,48), dan varietas Kaba (0,45).

LAST_UPDATED2
 
Tanam Sayuran Tanpa Media Tanah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 13 November 2014 07:25

Masyarakat biasanya menanam sayuran dengan memanfaatkan tanah dicampur dengan pupuk organik, pupuk anorganik  maupun bahan lainnya. Selain itu, tanaman sayuran dapat pula ditanam tanpa menggunakan media tanah, dengan menggunakan rockwool dimasukkan dalam pipa paralon, kotak plastik, ember, kotak cat bekas  maupun bahan lainnya dan dapat menghasilkan sayuran cukup bagus. Tanam sayuran dengan cara kedua ini dapat dilakukan dipekarangan maupun halaman sempit dan tak perlu menyiram tiap hari.

Budidaya  tanam sayuran tanpa media tanah cukup mudah dilakukan dengan menggunakan bahan yang tersedia. Penyemaian dilakukan dengan memanfaatkan rockwool, bila biji sayuran telah tumbuh dan kuat selanjutnya rockwool disambung dengan kain flanel untuk memperpanjang akar. Kemudian bibit dipindahkan pada rangkaian vertikultur pipa paralon, kotak plastik, ember maupun bahan lainnya yang telah disiapkan. Jika pembesaran tanaman sayuran menggunakan vertikultur dari paralon perlu dilengkapi pompa air untuk menyalurkan bahan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.

Teknik tanam sayuran tersebut telah dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) KRPL Kota Yogyakarta dan ditampilkan dalam Pameran Pekan Bakti Agro Inovasi pada tanggal 22-24 September di BPTP Yogyakarta.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com