Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
KRPL
banner2
UPBS BP2TP
Tikus
Pengenalan Ayam KUB

Galeri Foto

Berita
Pengolahan Pupuk Organik Cair dari Kotoran Ternak Sapi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 31 Oktober 2014 09:16

Pupuk organik cair adalah pupuk cair yang diolah dari bahan dasar urine, feses, starter, tetes tebu dan air. Pupuk organik ini dapat diolah secara sederhana dari urine dan feses ternak sapi, kambing maupun kelinci. Teknologi pengolahan pupuk cair berbahan dasar urine ini sangat mudah, murah dan memberi banyak manfaat bagi petani dan peternak. Manfaat penggunaan pupuk cair antara lain adalah menghemat biaya pemupukan, menyuburkan tanah, meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatan petani. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa produksi tanaman dapat ditingkatkan dengan penggunaan pupuk cair dari urine sapi.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 50 liter pupuk cair adalah 25 liter urine, 2,5 kg feses, 2 buah nanas, 2,5 liter tetes tebu dan air sekitar 20 liter. Cara membuatnya adalah:

 

  • urine dan feses ditaruh dalam suatu ember plastik besar, sedangkan nanas, tetes dan air dicampur dalam ember plastik berbeda.
  • Kedua ember tersebut di atas diperam (disimpan) selama 2 minggu dan setiap hari masing-masing ember diaduk sekitar 10 menit.
  • setelah 2 minggu isi kedua ember dicampur dalam satu ember dan diperam selama 1 minggu, setelah itu pupuk cair siap digunakan.


Penggunaan pupuk cair pada tanaman tidak secara langsung, namun diencerkan terlebih dahulu yaitu 1 liter pupuk cair ditambah dengan 15 liter air. Pupuk cair ini digunakan dengan cara disiramkan ke tanah sekitar tanaman atau disemprotkan ke daun dan diaplikasikan pada tanaman setelah penggunaan pupuk dasar.

Pupuk cair ini dibandingkan dengan pupuk padat memiliki kelebihan yaitu antara lain volume penggunaan lebih hemat, lebih mudah aplikasinya karena berbentuk cair dan cara pembuatan lebih praktis dan ringan tidak perlu banyak tenaga kerja.

LAST_UPDATED2
 
Pengendalian Hama Kutu Kebul dengan Penggunaan Tanaman Jagung sebagai Tanaman Penghalang PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 28 Oktober 2014 13:28

Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah serangan hama kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani sampai saat ini masih mengandalkan insektisida, namun demikian masih sering kali gagal dalam pelaksanaannya. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip operasional yang digunakan dalam pelaksanaan PHT salah satunya adalah budi daya tanaman sehat.  Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Pengendalian kultur teknis merupakan tindakan preventif, dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan sasaran agar populasi tidak meningkat sampai melebihi ambang kendalinya. Salah satu tindakan kultur teknis adalah dengan menggunakan tanaman jagung sebagai penghalang (barier) pada tanaman kedelai untuk mengendalikan hama kutu kebul. Untuk mengembangkan teknik pengendalian hama ini diperlukan pengetahuan sifat-sifat ekosistem setempat khususnya tentang ekologi dan perilaku hama seperti tentang bagaimana hama memperoleh berbagai persyaratan bagi kehidupannya termasuk makanan, perkawinan, dan tempat persembunyian untuk menghindarkan serangan cuaca buruk dan berbagai musuh alami. Dari pengetahuan biologi dan ekologi hama, kita dapat mengerti tentang titik lemah hama sehingga dapat diketahui fase hidup hama yang paling tepat untuk dilakukan pengendalian. Teknik pengendalian hama secara budi daya dapat dikelompokkan menjadi empat sesuai dengan sasaran yang akan dicapai yaitu: 1) mengurangi kesesuaian ekosistem, 2) mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama, 3) mengalihkan populasi hama menjauhi tanaman, dan 4) mengurangi dampak kerusakan tanaman.

Penanaman tanaman penghalang atau penolak bertujuan untuk menghambat penerbangan/migrasi hama. Penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai dimaksudkan untuk menghalangi atau mengganggu migrasi hama kutu kebul. Penelitian Moreau (2010) menunjukkan kombinasi tanaman perangkap dengan yellow sticky traps mampu menurunkan populasi kutu kebul pada pertanaman cabai hingga 53%. Tanaman penghalang (barier) dengan tanaman jagung yang rapat dapat membantu mengurangi migrasi kutu kebul. Populasi kutu kebul pada tanaman kedelai yang tidak diberi tanaman penghalang rata-rata 50% lebih besar dibanding tanaman yang diberi penghalang sejak 35 hari setelah tanam (HST) (Tabel 1). Pada 63 HST, populasi kutu kebul pada petak dengan tanaman penghalang hanya sepertiga dari populasi kutu kebul pada petak tanpa penghalang. Tanaman jagung selain bermanfaat sebagai penghalang fisik masuknya kutu kebul ke pertanaman kedelai juga dapat berfungsi sebagai inang bagi serangga predator bagi kutu kebul seperti kumbang Coccinellidae (Menochilus sexmaculatus Fab.). Dengan adanya tanaman jagung di sekeliling tanaman kedelai diharapkan dapat melestarikan dan meningkatkan musuh alami yang telah ada dengan memanipulasi lingkungan sehingga menguntungkan kemampuan bertahan hidupnya. Penanaman jagung lebih awal yaitu 3 minggu sebelum tanaman kedelai dapat mencegah masuknya kutu kebul dari luar ke petak pertanaman kedelai.

Penanaman tanaman jagung 2-3 baris di sekeliling petak dengan jarak tanam rapat 50 x 15 cm yang ditanam 2-3 minggu sebelum tanam kedelai, merupakan tindakan kultur teknis yang melindungan tanaman kedelai dari serangan kutu kebul. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengendalian secara bercocok tanam perlu dipadukan dengan teknik-teknik pengendalian hama lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip PHT.

Sumber: Balitkabi


LAST_UPDATED2
 
Balitbangtan Memperkenalkan VUB Gladiol dan Biopestisida Gliocompos PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Sabtu, 25 Oktober 2014 14:13

JAWA BARAT – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengadakan Gelar Teknologi Lapang Penggunaan Biopestisida Gliocompos pada Gladiol, Rabu (22/10/2014) di Kebun Percobaan Palasari, Desa Sudajaya Girang, Salabintana, Sukabumi.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Varietas Unggul Baru (VUB) gladiol yang dihasilkan Balitbangtan dan memperkenalkan biopestisida Gliocompos, pengaruhnya terhadap pertanaman gladiol serta pelatihan cara pembuatannya.

Balitbangtan mencoba melakukan perakitan benih tanaman hias khususnya gladiol  dan sampai saat ini sudah melepas sepuluh varietas ditambah lima varietas yakni Laila, NurlailaNafaRiska, dan Hunaena yang saat ini digelar di lapang.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti) berharap dari Temu Lapang ini dapat memunculkan varietas gladiol yang menjadi pilihan petani dan konsumen dimana perbanyakan benihnya dapat dilakukan oleh penangkar sehingga petani dapat memperoleh benih yang baik dari penangkar.

Acara yang dihadiri petani tanaman hias, Penyuluh Kabupaten Sukabumi, Pemda Jawa Barat, Peneliti, Institusi terkait dan stakeholders lainnya walau dilaksanakan sederhana tetapi tidak mengurangi antusiasme petani dan stakeholders tanaman hias gladiol.

Preferensi petani dan konsumen yang hadir terhadap lima VUB gladiol di lapang menghasilkan gladiol varietas Nafa di urutan pertama, disusul Nurlaila, Hunaena, Riska dan Laila.

Informasi lebih lanjut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura

LAST_UPDATED2
 
Lahan Pertanian Kota Yogyakarta Sempit, Unggulkan Kualitas PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 23 Oktober 2014 13:55

YOGYA (KR) - Potensi pertanian di Kota Yogyakarta cukup besar. Keterbatasan lahan justru mendorong kelompok tani perkotaan untuk mengutamakan kualitas produk pertanian. Selain untuk konsumsi sendiri, hasilnya juga mulai dilirik pasar. Ketua Kelompok Tani Kencana Asri Kelurahan Kadipaten Kraton, Ir Susilowati Priadi mengungkapkan, konsep pertanian perkotaan sangat berbeda dengan di pedesaan. "Kalau desa lebih ke kuantitas karena lahan disana luas. Tapi untuk kota lebih ke kualitas dan kreativitas," ungkapnya di sela peringatan ulang tahun ke-14 Kelompok Tani Kencana Asri, Rabu (22/10).

Konsep pertanian di perkotaan itu pun tidak sekadar mengandalkan hasil. Melainkan bisa berfungsi sebagai tanarnan hias, penghijauan kota serta penyaluran hobi dan minat positif. Sementara kualitas yang diunggulkan itu karena produk pertanian yang dijamin sehat. Susilowati mengungkapkan, seluruh proses menanam tak satupun menggunakan obat, kimia maupun pestisida. Dengan demikian, hasil tani terutama sayur mayur sangat aman untuk dikorsumsi. "Kalau semua warga di kota bisa menanam, maka kota ini pasti hijau. Bisa menjadi tombo stres kalau melihat tanaman yang hijau," paparnya. Media tanam mengunakan pot, polibag serta kreasi dari pipa. Aksi penanaman itu pun hanya dilakukan di halaman rumah. Bagi warga yang tidak memilki halaman pun tetap bisa melakukan aktivitas menanam dengan model digantung.

Penyuluh, Pertanian Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta, Pariyem menambahkan, rata-rata di tiap kelurahan sudah terdapat dua kelompok tani. Menurutnya, meski hasil tani itu hanya untuk konsumsi keluarga, namun banyak supermarket yang bermfnat atas hasil pertanian tersebut.

 

Sumber: Kedaulatan Rakyat

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com