Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Proquest
100 Teknologi
Pengenalan Ayam KUB
e-Produk
KRPL
Tikus

Galeri Foto

Berita
Emping Garut Tampak Bening dan Menarik PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 08 September 2014 07:28

Emping garut kualitas satu tampak bening, bersih dan menarik dengan serat terlihat samar-samar. Harga emping kualitas terbaik ini berkisar Rp 50-70 ribu per kg, hal ini tentunya memberikan daya tarik bagi para pengrajin emping garut, sedangkan emping sejenis dengan kualitas lebih rendah warna tampak kecoklatan dengan serat tampak jelas.

Teknik pembuatanya sama, perbedaannya terletak pada umur panen tanaman garut. Hasil pengkajian BPTP Yogyakarta menyimpulkan bahwa waktu panen tanaman garut yang paling baik sebagai bahan pembuatan emping garut pada saat tanaman berumur 6-7 bulan, sedangkan jenis tanaman garut yang baik sebagai bahan emping garut yaitu varietas Sembowo karena memiliki umbi besar.

Waktu panen garut lebih dari delapan bulan sebaiknya digunakan sebagai bahan pembuatan pati garut. Hasil panen pada umur tersebut tetap masih dapat diproses menjadi emping garut, tetapi kualitasnya menurun karena warna emping garut tampak buram kecoklatan dan serat tampak nyata.

Hal tersebut diungkapkan oleh Yeyen Prestyaning W, S.TP peneliti BPTP Yogyakarta pada saat evaluasi pembuatan emping garut yang dilaksanakan oleh KWT Sri Rejeki di lokasi kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Bantul.

LAST_UPDATED2
 
Panen Jahe dan Terong di KRPL Cancangan Sleman PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Suharno   
Rabu, 03 September 2014 08:03

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Ir. Widi Sutiko MSi mewakili Bupati Sleman hari  Selasa (2/8) panen tanaman Jahe di lokasi KRPL Sleman. Acara panen dan temu lapang berlangsung di Dusun Cancangan Wukirsari Cangkringan Sleman Yogyakarta didampingi Dr. Sudarmaji Kepala BPTP Yogyakarta. Panen terong dan tanaman pegagan dilakukan di Kebun Bibit Desa (KBD) KRPL dilanjutkan panen tanaman jahe bertempat di lahan pekarangan pengelola KRPL Bapak Surojo.

Dalam sambutannya, Ir. Widi Sutikno M.Si mengharapkan kegiatan KRPL ini perlu dipertahankan, kegiatan semacam ini salah satu contoh yang dilakukan ibu-ibu dalam membantu pemerintah dalam upaya penganekaragaman pangan dan pengentasan kemiskinan. Selain pengembangan KRPL, terkait pengendalian hama tikus yang juga menjadi masalah di Kabupaten Sleman,  beliau juga menyampaikan terima kasih kepada penggemar Reptor yang telah memilih wilayah Wukirsari dalam pengembangan Tyto Alba. Hal ini merupakan satu metode penyeimbang ekosistem di alam karena populasi tikus di daerah dengan pola tanam kurang baik jumlah tikus semakin bertambah.

Sementara  Dr. Sudarmaji pada sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan KRPL di wilayah Cancangan telah berhasil, agar dilanjutkan karena hal ini bermanfaat untuk mengurangi pengeluaran rumahtangga. Lebih lanjut beliau menyampaikan  bahwa FAO telah mengadopsi KRPL yang dilaksanakan di Indonesia sehingga saat ini KRPL tidak hanya berkembang di Indonesia tetapi dilakukan pula di negara lain.

“Kelompok Tani Margo Mulyo dalam melaksanakan KRPL telah mendapat pendampingan dari BPTP Yogyakarta sejak tahun 2012 dan saat ini anggota telah mampu menghemat pengeluaran Rp 5-8 ribu per hari untuk belanja sayuran” ungkap Ketua Kelompok Bavit Margo Utomo disela-sela penyelenggaraan Temu Lapang KRPL Sleman.

LAST_UPDATED2
 
Indo Jarwo Transplanter Mampu Mengatasi Permasalahan Lahan Sawah Sampai Kedalaman 60 cm PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 26 Agustus 2014 08:26

Usaha pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mewujudkan program penyediaan padi sebesar 75,7 juta ton GKG pada tahun 2010 – 2014 menghadapi berbagai kendala, antara lain menurunnya luas areal sawah akibat laju konversi lahan sawah ke non-sawah, kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian, menurunnya minat generasi muda pada usaha sektor pertanian, masih tingginya susut panen padi, terbatasnya air irigasi dan menurunnya kinerja sebagian besar sistem irigasi, dan ancaman perubahan iklim global.

Salah satu strategi untuk mengatasi ancaman tersebut adalah dengan penerapan mesin tanam bibit padi dan pemanen padi. Penerapan mesin-mesin tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja, mempercepat dan mengefisiensikan proses, dan sekaligus menekan biaya produksi.

Pada tahun 2013 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah menghasilkan prototipe mesin tanam bibit padi Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe I. Jarwo atau jajar legowo yaitu metode tanam dengan jarak antar baris tanaman 20 cm x 20 cm dengan jarak dalam barisan tanam 12,5 – 13 cm, diselingi jarak kelompok antar barisan tanaman berikutnya selebar 40 cm.

Mesin Indo Jarwo Transplanter  2:1 prototipe I mampu melakukan tanam bibit padi seluas 1 hektar dalam waktu sekitar 5 – 6 jam. Selain itu mesin ini mampu menurunkan biaya tanam dan sekaligus mempercepat waktu tanam. Namun dari berbagai hasil operasional di lapangan terlihat bahwa Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe I selalu sulit beroperasi pada lahan sawah dengan kondisi tanah berlumpur dalam (lebih dari 30 cm) apalagi berat. Pada kondisi tersebut mesin transplanter tidak dapat berjalan dan terperosok tenggelam.

Guna menyesuaikan kondisi tersebut, dilakukan beberapa perubahan beberapa komponen penting pada sistem penggerak daya, transportasi dan pelampung. Adanya tiga bagian perubahan utama menjadikan mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe II yang dibuat pada tahun 2014 mampu beroperasi dengan mudah pada lumpur sawah yang berat dengan kedalaman sampai 60 cm di Kepanjen, Malang.

Kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam/ha atau mampu menggantikan tenaga kerja tanam sebanyak + 25 orang/hektar, kecepatan jalan pada saat operasional mencapai 3 km/jam. Uji coba pada tahun 2014 telah dilakukan di Kebun Percobaan Muara Bogor, lahan sawah petani di Kawunganten Cilacap, Jawa Tengah dan lokasi Temu Penas 2014 di Kepanjen Malang. Demo mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe II di lokasi Penas 2014 disaksikan langsung oleh Presiden RI beserta Ibu dan rombongan.

Sumber : Badan Litbang Pertanian

LAST_UPDATED2
 
Panen dan Temu Lapang Pendampingan SL-PTT Kedelai di Bantul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dwi Titaningsih   
Kamis, 21 Agustus 2014 09:57

              Untuk menyebarluaskan teknologi PTT dan produksi benih unggul kedelai telah dilaksanakan temu lapang PTT kedelai sekaligus panen di Kelompok Tani Tani Harjo di Dusun Tegalsempu, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Rabu (20/8/2014). Kegiatan tersebut merupakan forum pertemuan antara peneliti, penyuluh, petani, dan penentu kebijakan untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan dan implementasi teknologi PTT kedelai, tukar menukar informasi dan pengalaman serta mendapatkan umpan balik, respon dan kemungkinan pengembangan inovasi secara luas. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Balitbangtan, Dinas Pertanian DIY, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, BPP Pandak, serta kelompok Tani Tani Harjo.

          Acara panen dan temu lapang PTT kedelai Bupati Bantul diwakili Staf Ahli Bupati/Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Dr. Partogi Pakpahan, M.Sc, Kepala BPTP Yogyakarta Dr.Sudarmaji, UPTD BPPTPH DIY, BKP3 Bantul, BPP Pandak serta pejabat lainnya dari instansi terkait, peneliti pendamping Balitkabi Balitbangtan dan peneliti penyuluh BPTP Yogyakarta.

          Kepala BPTP Yogyakarta dalam sambutannya antara lain menyatakan bahwa melalui  kegiatan Temu Lapang ini diharapkan teknologi tersebut dapat diadopsi oleh para petani dalam rangka meningkatkan produktivitas kedelai khususnya di wilayah DIY. Bupati Bantul yang diwakili Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul mengatakan bahwa ke depan kita harus bahu membahu dalam mewujudkan kedaulatan pangan dengan dukungan anggaran yang memadai di sektor pertanian sehingga bisa mencapai target yang ditetapkan termasuk mengantisipasi fenomena iklim yang fluktuatif. Peneliti pendamping Balitkabi Balitbangtan Dr. Muchlies Adi  memberikan sambutan bahwa Balitbangtan melalui BPTP Yogyakarta akan mendampingi perbenihan varietas Argomulyo yang diminati petani karena keragaan sudah bagus dan teknologi budidaya kedelai DIY sudah cukup berkembang, untuk itu perlu dukungan perluasan areal dan peningkatan produktivitasnya supaya tidak terjadi ketergantungan pada impor.

         Wardono sebagai ketua Kelompok Tani Tani Harjo memberikan laporan dan penjelasan display PTT kedelai yang dilaksanakan pada areal seluas 6,5 Ha, melibatkan 50 petani kooperator dengan varietas kedelai yang ditanam adalah Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Kaba, Burangrang dan Gema. Teknologi PTT yang diterapkan adalah TOT (tanpa olah tanah) dengan jarak tanam 40 x (10-15) cm, 2-3 biji perlubang, pemupukan NPK Phonska 200kg/ha. Varietas yang paling banyak disukai petani adalah Argomulyo (100%), Anjasmoro (93,75%), Grobogan (87,50%), Burangrang (81,25%), Gema (81,25%) dan Kaba (75%). Hasil produksi Display VUB kedelai Argomulyo berat ose kering 13,28-20,66 (ku/ha), Anjasmoro 21,63-22,90 (ku/ha), Grobogan 11,51-21,85 (ku/ha), Gema 12,39 (ku/ha), Burangrang 18,94-24,30 (ku/ha),Kaba 25,09-25-27 (ku/ha).

 

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com