Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
e-Produk
KRPL
banner2
UPBS BP2TP
Tikus
Pengenalan Ayam KUB

Galeri Foto

Berita
Kelompoktani Sleman Bahas Reproduksi Ternak Sapi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ir. Ari Widyastuti   
Jumat, 06 Juni 2014 07:02

Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas sapi mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDSK) Pemerintah Kabupaten Sleman memfokuskan pembinaan kepada kelompok tani ternak sebagai wadah kelembagaan para peternak.

Permasalahan yang dijumpai peternak di Kabupaten Sleman diantaranya adalah rendahnya  reproduktivitas ternak. Rendahnya tingkat reproduktivitas mempengaruhi produksi dan produktivitas ternak sapi. Hal tersebut disampaikan drh. Nanang Danardono mewakili Kepala Bidang Peternakan Dipertahut Sleman pada kegiatan  Forum Komunikasi Tiga Bulanan Kelompoktani ternak. Hal serupa dikeluhkan oleh anggota kelompoktani ternak bahwa induk sapinya tidak segera bunting setelah beberapa kali dikawinkan menggunakan metode Kawin Suntik (Inseminasi Buatan).

Ir. Erna Winarti, peneliti bidang peternakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta sebagai narasumber pertemuan tersebut menyampaikan bahwa rendahnya tingkat reproduktivitas ternak sapi  disebabkan oleh beberapa  faktor, antara lain  pakan yang tidak memenuhi standar kualitas dan kuantitas, serta belum tepatnya peternak melaporkan kejadian birahi ternak, atau bisa disebabkan oleh adanya penyakit atau kelainan reproduksi pada ternak sapi. Lebih lanjut disampaikan bahwa peternak dapat menggunakan dua patokan yang dapat dijadikan indikator keberhasilan reproduksi sapi potong yaitu angka perkawinan hingga jadi (servis per conception = S/C) dan jarak beranak induk sapi. Angka perkawinan hingga jadi (S/C) ternak sapi adalah kurang dari 1,5, artinya bila peternak mempunyai 2 ekor induk sapi satu induk dikawinkan langsung positif bunting dan satu induk dikawinkan 2 kali baru positif bunting. Patokan lain yaitu jarak beranak induk sapi kurang dari 14 bulan, artinya 4 – 5 bulan setelah melahirkan induk sapi sudah harus bunting kembali.

Forum Komunikasi dilaksanakan di Kelompoktani ternak Sumber Rejeki, Dusun Jalakan, Desa Tambak Rejo, Kabupaten Sleman, diprakarsai oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman dimaksudkan untuk memberikan pembinaan sekaligus  ajang komunikasi dan silaturahmi antar kelompoktani ternak se-Kabupaten Sleman. Forum dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Camat Tempel, Perangkat Desa Tambak Rejo, dan Kelompoktani Ternak se-Kabupaten Sleman sebanyak 200 kelompok sebagai peserta. Populasi ternak sapi di kabupaten Sleman pada tahun 2013 tercatat mencapai  51.642 ekor. (aw-yk)

LAST_UPDATED2
 
Pengembangan Krisan di Kulon Progo PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Sarjono   
Rabu, 04 Juni 2014 09:17

Wakil Bupati Kulon Progo, Sutejo pada kunjungannya ke wilayah Kecamatan Samigaluh  mengapresiasi BPTP Yogyakarta yang telah menginisiasi pengembangan bunga krisan di Desa Gerbosari Samigaluh. Pada kunjungan tersebut, Sutejo menyempatkan melakukan penanaman bibit krisan di kubung milik mantan Kepala Desa Gebosari, Sukardi.

Tri Martini, peneliti BPTP Yogyakarta pada saat mendampingi Wakil Bupati Kulon Progo, melaporkan bahwa saat ini krisan yang telah dilepas Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian dari  Yogyakarta dan telah dikembangkan di Kulon Progo sejumlah 6 varietas. Varietas krisan tersebut oleh Sri Sultan HB X diberi nama Kusumapatria, Ratnahapsari, Cintamani, Kusumasakti, Sasikirana dan Kusumaswasti. Disamping itu juga dilaporkan bahwa  petani krisan Kulonprogo sudah membentuk kelompok yang diberi nama Paguyuban Seruni Menoreh.

Suharso, selaku ketua Paguyuban Seruni Menoreh mengatakan akhir 2013 kubung krisan telah berkembang sebanyak 36 unit dengan luasan antara 70 – 100 m2, direncanakan pada tahun 2014 telah berkembang menjadi 64 unit. Adapun produksi baru mencapai sekitar 300 ikat/bulan dan keseluruhan produksi diserap oleh Floris Yogyakarta. Suharso menuturkan budidaya krisan di Samigaluh sementara ini masih dilakukan di ladang atau persawahan kedepan dapat dilakukan dengan memanfaatan halaman dan pekarangan rumah untuk meningkatkan pendapatan. Selain petani menjual bunga potong, sebenarnya sudah mulai dirintis untuk memproduksi hasil olahan seperti teh krisan dan kripik krisan, namun demikian produk ini masih menjadi hasil sampingan dan belum dilakukan secara optimal.

Pada akhir kunjungannya, Sutejo mengharapkan Paguyuban Seruni Menoreh terus belajar dan mengembangkan bunga krisan, diharapkan ke depan krisan  menjadi komoditas andalan dari Kabupaten Kulon Progo. Kepada Floris Yogyakarta mengharapkan tetap menjadi mitra dalam pemasaran bunga krisan dan BPTP Yogyakarta selalu mendampingi petani krisan dalam penerapan inovasi-inovasi yang telah dihasilkan.

LAST_UPDATED2
 
Bawang Merah dan Cabai Merah Pemicu Inflasi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 02 Juni 2014 07:44

Naiknya harga komoditas bawang merah dan cabai merah menjadi pemicu inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Apalagi saat menjelang lebaran harga komoditas tersebut mengalami peningkatan akibat permintaan konsumen semakin tinggi. Hal tersebut diungkapkan Sinung Rustijarno mewakili Kepala BPTP Yogyakarta sebagai narasumber dalam pelaksanaan Temu Lapang MKRPL di Dusun Pelem, Desa Pundungsari, Kecamatan Semin, Gunungkidul pada hari Rabu (28/5). Lebih lanjut disampaikan bahwa penanaman bawang merah dapat dilakukan di lahan pekarangan dengan menggunakan pot ataupun polibag untuk mengantisipasi kenaikan harga. Yogyakarta juga ditunjuk sebagai pilot project percontohan budidaya bawang merah di polibag/pot selain DKI Jakarta dan Bandung. BPTP Yogyakarta dalam mewujudkan Rencana Aksi (Renaksi) Inovasi Budidaya Bawang Merah pada Rabu (14/5) juga telah menyelenggarakan workshop dan pelatihan penanaman bawang merah dengan menggunakan polibag/pot kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Gading Asri, Kencana Asri dan Kauman Dua Enam Lima sebagai pelaksana kegiatan KRPL di wilayah Kota Yogyakarta.

Berbagai pengalaman dari salah satu perwakilan KWT mengungkapkan sangat beruntung mendapat pendampingan KRPL. Beberapa hal yang menarik bagi KWT yaitu melalui KRPL dapat merubah perilaku yang sebelumnya konsumtif berubah menjadi produktif. Selain pendapatan meningkat, penggunaan pestisida dalam usaha budidaya tanaman sayuran di pekarangan dapat dihindari. Selain itu juga menambah relasi, memperluas jejaring pemasaran dan kerjasama antar kelompok. Acara temu lapang juga menampilkan berbagai produk yang dihasilkan oleh KWT yang telah mendapat pendampingan dari BPTP Yogyakarta berupa produk olahan meliputi kripik jagung, canguk (kacang benguk), kripik tempe, jahe instan, kunir instan maupun produk lainnya, sedangkan peragaan teknologi pasca panen yang ditampilkan adalah pembuatan jahe instan.

Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan bahwa program unggulan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari dari Badan Litbang telah dikembangkan di beberapa lokasi sebagai Replikasinya, yang pada tahap selanjutnya akan diangkat menjadi program daerah untuk intensifikasi pemanfaatan lahan pekarangan. Kegiatan tersebut tidak hanya meliputi tanaman sayur-sayuran tetapi juga potensi tanaman lain seperti tanaman obat-obatan (toga) dan pengembangan pangan lokal berbasis umbi-umbian seperti Talas Safira, gembili, uwi, garut, ganyong dan lain-lain.

LAST_UPDATED2
 
Persiapan Pengukuhan Gelar Profesor Riset Dr. Bambang Sutaryo PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dra. Tarfuah   
Jumat, 30 Mei 2014 08:43

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta secara rutinitas setiap bulan mengadakan seminar bulanan. Pesertanya adalah peneliti, penyuluh, pustakawan dan fungsional lainnya lingkup BPTP Yogyakarta. Tujuan seminar bulanan disamping sebagai wadah tempat bertemunya pemangku jabatan fungsional juga merupakan forum komunikasi ilmiah untuk berbagi ilmu dan ketrampilan bagi mereka yang telah selesai mengikuti pendidikan dan latihan, bertukar informasi dan pengalaman mengenai kegiatan dan hasil kegiatan yang dilaksanakan. Forum komunikasi ilmiah juga dimanfaatkan sebagai sarana persiapan sebelum melakukan seminar atau orasi dan sosialisasi yang dianggap penting yang menunjang kegiatan balai dalam melaksanakan visi, misi dan tugas pokok balai.

Pada tanggal 23 Mei 2014 di Auditorium BPTP Yogyakarta telah diadakan seminar bulanan. Selaku pembicara yaitu Dr. Bambang Sutaryo beliau adalah Peneliti Utama bidang Pemuliaan Tanaman padi yang sedang melakukan pemaparan Orasi Pengukuhan Profesor Riset bidang Pemuliaan Tanaman, dengan judul “Perspektif Perakitan Padi Hibrida untuk Mendukung Swasembada Berkelanjutan”. Arahan Kepala Balai Dr. Sudarmaji menyatakan bahwa Dr. Bambang Sutaryo pada saat memaparkan orasi adalah berperan sebagai aktor yang akan mendapatkan penghargaan profesor riset, maka harus menyampaikan jati dirinya dan diperlukan persiapan yang sebaik baiknya, karena penghargaan profesor riset adalah penghargaan tertinggi bagi seorang peneliti di Kemeterian Pertanian.

Presentasi dilakukan sesuai waktu yang dialokasikan untuk orasi + 30 menit dilanjutkan diskusi. Sesi diskusi tanggapan dari audiens diantaranya adalah tampilan presentasi, kejelasan penyampaian dan konsistensi (suara, sikap, alur) penyaji, pesan dan kontribusi peneliti yang bersangkutan dalam pengembangan padi hibrida di Indonesia, perbaikan teknologi budidaya dan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan produksi beras nasional.(Fhu 2014)

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com