Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
benih jebol
PPID Kementan
Proquest
Aplikasi Balitbangtan
100 Teknologi
WBS

Galeri Foto

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Pemanfaatan Dam Parit dan Embung untuk Optimalisasi Budidaya Tanaman Pangan di Lahan Kering PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 26 Juni 2014 09:14

Seperti halnya kawasan lahan kering beriklim kering pada umumnya, berkaitan dengan usaha tani tanaman dan usaha ternak serta kebutuhan air untuk rumah tangga di Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul ada masalah keterbatasan dan kelangkaan air. Hal ini terkait dengan curah hujan yang relatif rendah (1.528 mm/tahun) dan musim kemarau yang relatif panjang (6 bulan berlangsung pada Mei-Oktober). Akibatnya, pada musim kemarau lahan usaha tani tidak dapat ditanami. Hal ini menyebabkan petani harus membeli pangan dan pakan hijauan ternak. Petani yang memiliki 2 ekor sapi terpaksa harus membeli hijauan pakan 1-2 truk dari luar daerah yang nilainya berkisar Rp 250.000,00 Rp 600.000,00. Di samping itu, untuk keperluan air bagi rumah tangga dan ternak peliharaan, mereka juga terpaksa harus mengambil air dari luar pekarangan yang relatif jauh jaraknya (> 0,5 km). Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut ditempuh upaya dengan memanfaatkan peluang potensi sumber daya air lokal yang tersedia.

Inovasi teknologi yang diintroduksi berupa pemanfaatan sumber air permukaan dan teknologi panen hujan (dam parit, embung) yang diintegrasikan dengan sistem penyaluran melalui parit ataupun jaringan pipa dan bak distribusi. Inovasi kelembagaan dilakukan melalui pembentukan kelembagaan petani pengguna air untuk menjaga keberlanjutannya dengan sistem pembagian air yang adil.

Penerapan teknologi panen hujan (dam parit, embung dengan jaringan irigasi pipa) untuk tegalan dan sawah bersumber dari 5 lokasi pengambilan air. Total debit pada Juni 2007 sebesar + 4,83 l/detik telah berdampak positif. Pada musim hujanbertambah suplai air irigasi untuk areal lahan seluas + 26,5 ha pada 82 lahan petani dan pakan hijauan ternak. Petani yang memiliki 2 ekor sapi terpaksa harus membeli hijauan pakan 1-2 truk dari luar daerah yang nilainya berkisar Rp 250.000,00 Rp 600.000,00. Di samping itu, untuk keperluan air bagi rumah tangga dan ternak peliharaan, mereka juga terpaksa harus mengambil air dari luar pekarangan yang relatif jauh jaraknya (> 0,5 km). Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut ditempuh upaya dengan memanfaatkan peluang potensi sumber daya air lokal yang tersedia.

Inovasi teknologi yang diintroduksi berupa pemanfaatan sumber air permukaan dan teknologi panen hujan (dam parit, embung) yang diintegrasikan dengan sistem penyaluran melalui parit ataupun jaringan pipa menjadikan perubahan sistem budidaya dari tegalan menjadi persawahan seluas + 2,0 ha pada 15 lahan petani. Pada musim kemarau sebagian lahan dapat ditanami sayuran (sawi, bayam) dan jagung untuk pakan sehingga meningkatkan indeks penanaman dan produktivitas lahan yang berakibat pada peningkatan pendapatan petani, baik dari hasil penjualan sayuran maupun penghematan biaya pembelian pakan ternak. Rata-rata potensi pendapatan dari satu embung dengan volume tampungan + 15 m3 dapat untuk penyiraman sawi seluas 100 m2 yang dipanen pada umur 25-28 hari dengan pendapatan sebesar Rp 342.000,00 dan selama musim kemarau dapat bertanam 1-3 kali.

 

LAST_UPDATED2
 
wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror hacklink wso shell
Joomla Templates by JoomlaVision.com